FaricHapPy always Be Happy

Minggu, 04 Maret 2012

Emakku Hebat

Langit senja mulai menyelimuti alam bumi. Sang raja siang mulai menenggelamkan dirinya, semburat cahaya merahnya nampak garang dan menantang. Nampak segerombolan burung-burung pulang ke sarangnya. Lukisan langit yang indah penuh warna warni tiada yang bisa menandingi ciptaan-Nya. Para petani dengan cangkul di punggungnya bergegas pulang. Sungguh suasana damai di sebuah pedesaan. Damainya senja sepertinya tak sedamai hati Emak. Wanita paruh baya berusia 45 tahun sedang menikmati suasana sore menunggu datangnya maghrib. Dalam tatapan matanya terpancar sebuah kerinduan, kerinduan yang mendalam pada anak-anaknya. Dan sesekali air matanya membasahi pipinya yang agak sedikit kendur. ”sedang apa kalian?” itulah pertanyaan yang selalu muncul di benak Emak. Emak hanya tinggal dua orang dirumah. Dirinya dan suaminya. Empat orang anaknya masih mengenyam pendidikan, satu tingkat kuliah dan dua tingkat SMP & SMA, dan satunya lagi hanya belajar di pesantren saja. Dan kesemuanya tidak tinggal di rumah melainkan berada di pesantren. Emak tidak mau anak-anaknya hanya mengejar ilmu dunia saja tapi juga ilmu agama, karena kata Emak “orang pintar yang tak beragama sama saja bangkai yang berjalan”. Oleh karena itu Emak memasukkan semua anak-anaknya ke pesantren. Padahal Emak hanyalah seoramg pedagang kaki lima dan suaminya seorang pensiunan yang gajinya tidak terbilang banyak dan tidak cukup apabila hanya mengandalkan gaji abah. Demi pendidikan anak-anaknyan Emak rela banting tulang mencari biaya. Emak ingin derajat anak-anaknya lebih tinggi dibanding dirinya sendiri yang hanya lulusan Sekolah Dasar saja. Meski kesusahan Emak tidak menyuruh anak-anaknya untuk bekerja, yang terpenting bagi Emak sekarang adalah anak-anaknya bisa mendapatkan ilmu terutama ilmu agama. Satu orang anaknya lagi yang apabila meneruskan sekolah, kini ia berda di jenjang perkuliahan seperti kakak laki-lakinya. Namun, ia mengerti keadaan orang tuanya, jika ia menerusakan kuliah pasti Emak akan lebih kerja keras lagi, ia tidak mau terus menerus merepotkan Emak. Meski Emak menyarankannya untuk kuliah tapi ia tetap tidak mau sehingga ia hanya memilih mengkaji ilmu agama saja di pesantren. Tadinya ia ingin tinggal dirumah saja membantu Emak, tapi oleh Emak tidak boleh., Emak tetap bersikeras agar ia tetap tinggal di pesantren mengkaji ilmu agama. Setiap sebulan sekali Emak harus membagi uang untuk anak-anaknya. Setiap mendapatkan uang dari hasil dagangan atau gaji pensiun suaminya pasti langsung habis untuk dibagikan kesemua anak-anaknya. Apalagi jika anak-anaknya sedang banyak kegiatan di sekolah, Emak kebingungan mau mencari dana dari mana lagi. Terpaksa Emak pinjam uang dulu ke saudara-saudara yang ada. Emak sangat hati-hati dalam membelanjakan uang, bahkan Emak rela tak makan enak demi anak-anaknya. Hati Emak miris ketika ada salah satu dari anaknya minta uang namun Emak belum bisa memberikan sepenuhnya, terpaksa anaknya harus menunggu sampai Emak dapat uang. Walau seperti itu Emak tetap tidak putus asa, semangatnya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya sangatlah tinggi, meski harus kepanasan dibawah terik sinar matahari Emak rela melakukannya. Harapan Emak agar anak-anaknya bisa sanpai ke jenjang perkuliahan semua. Selain ingin anak-anaknya menjadi orang yang sukses, keinginan Emak yang masih dalam angan-angan yaitu memenuhi rukun islam yang ke lima yaitu bertamu ke Baitullah. Angan-angan itu sudah lama muncul dibenak Emak, tapi… angan-angan tinggalah angan-angan, untuk membiayai anak-anaknya saja Emak harus pontang-panting kesana kemari. Tapi Emak tetap yakin kalau suatu saat nanti Emak pasti bisa bekunjung kesana walau tak tahu entah kapan, yang penting keyakinan itu sudah ada dalam benak Emak dan Emak percaya kalau Allah pasti akan memudahkan jalannya orang-orang yang berniat baik. Keyakinan itu Emak barengi dengan menyisihkan uang seribu rupiah perhari, meski jika dihitung-hitung sampai waktu memakan usia Emak pun uang itu tetap belum cukup untuk biaya haji. Semangat Emak tetap tidak luntur , setiap ba’da shalat maktubah ( shalat wajib 5 waktu) tak pernah absen dari lisan Emak selalu mengucap kalimat “labai kallahuma labaik, labaikallah syarikallah….”Betapa rindunya Emak dengan Baitullah, betapa kuatnya keinginan Emak untuk kesana setiap malam, dikala orang-orang terlelap dalam mimpi indahnya Emak dan suaminya bangun guna menunaikan shalat malam. Emak menangis, bermunajat memohon kepada-Nya agar anak-anaknya menjadi penerus bangsa dan agama yang baik. Semangat suaminya tak jauh beda dengan semangat emak, dia tidak mau menganggur saja dirumah, setiap pagi selesai shalat subuh ia pergi ke ladangnya guna mengurusi tanaman yang sedang baik di tanam sesuai dengan musim yang ada. Emak pusing ketika anak-anaknya minta dikirimi uang padahal gaji pensiun belum keluar, ladang belum panen di tambah dagangan Emak yang kurang laris, hingga terpaksa Emak harus pinjam ke saudara dulu. Suatu ketika anak laki-laki pertamanya yang kini masih berada di jenjang perkuliahan mengalami kecelakaan ketika akan pulang ke rumah. Keadaan fisiknya tidak begitu parah namun motor yang di kendarainya rusak parah serta orang yang terkena dampak kecelakaan itu minta ganti rugi, padahal bukan sepenuhnya kesalahan anaknya. Semakin tersayat hati Emak mendengar berita kecelakaan itu, semakin bingung pula harus kemana lagi Emak mencari biaya. “Ya Rabbi yang maha bijaksana, cobaan apalagi yang Kau ujikan padaku, Rabbi… jika memang ini semua adalah kesabaranku, ikhlaskan aku aku ya Rabbi menerima ini semua, kuatkan dan sabarkan aku dalam menjalani hidup ini, dan satu lagi ya Rabbi… kapan kau panggil aku ke rumah suci-Mu, rinduku sudah tak terbendung lagi, sebelum kau memanggilku izinkan aku untuk untuk berkunjung ke rumah-Mu dulu.” Do’a Emak dalam tahajudnya, diiringi tetesan air mata sucinya. Tiba-tiba Hasan, anak pertama yang mengalami kecelakaan itu menghampirinya. “Mak, maafkan Hasan ya Mak, Hasan sudah banyak merepotkan Emak. Sudah banyak menyusahkan Emak, Tapi Hasan nggak bermaksud menyusahkan Emak seperti ini. Hasan janji Mak, Hasan janji setelah selesai kuliah nanti Hasan akan bekerja dengan giat dan Hasan akan bantu Emak mengumpulkan uang agar Emak bisa naik haji.” Rintih Hasan yang ternyata sedari tadi mendengarkan do’a Emak. “Sudahlah San, Emak tidak apa-apa, ini semua bukan salahmu, ini semua sudah kehendak–Nya, hidup ini memang penuh cobaan. Ini berarti Allah masih sayang dan perhatian pada kita dengan memberi cobaan-cobaan, jika kita bisa melaluinya dengan kesabaran kita akan mendapat derajat yang tinggi disisi-Nya. Kamu nggak usah kawatir, uang yang Emak dan abah cari Insya Allah halal meski harus hutang sana sini, yang penting sekarang kamu kuliah yang bener, niatkan semata untuk mencari Radlo Allah, maka semua akan dimudahkan olehnya, jangan pernah suudzon pada-Nya tapi selalu berkhusnudzonlah pada-Nya.” Kata Emak dengan bijak kepada Hasan. “Iya Mak, Hasan akan pegang kata-kata Emak, Hasan janji pokoknya Hasan akan jadi mahasiswa terbaik di wisuda nanti, do’akan Hasan ya Mak.” Kata Hasan. Emak yang tegar, Emak yang tabah, ia tidak mau menampakkan kesedihannya pada anak-anaknya. Meski sebenarnya berbagai persoalan membelit-belit dipikiran Emak. Emak juga tidak ingin anak-anaknya tahu kalau dana-dana yang di dapat untuk pendidikan anak-anaknya selama ini diperoleh dengan penuh kesusahan. Mendengar perkataan Emak semalam, Hasan jadi tidak tega jika harus meninggalkan rumah , sehingga ia putuskan untuk keluar dari pesantren dan berangkat kuliah dari rumah saja. Meski awalnya tidak boleh oleh Emak. Namun Hasan terus mendesak dan akhirnya boleh. Keadaan fisik Emak yang semakin hari semakin menua mebuat Emak jatuh sakit, suhu badannya sangat panas, hanya Hasan dan Abah yang merawatnya dirumah. Hasan dan Abah menyarankan Emak untuk periksa ke klinik namun Emak tidak mau.Emak hanya mintakan obat di apotik saja. Tapi semakin hari sakit Emak bukannya semakin membaik tapi malah semakin memburuk. Anak-anaknya yang tinggal di pesantren dilarang Emak untuk di kabari sebab Emak takut justru akan mengganggu aktifitas belajar mereka. “Emak, ayo Mak periksa ke Dokter, sakit Emak semakin parah, ini harus segera ditangani dokter. ”Paksa Hasan pada Emak. “San, Anakku… kalau Emak ke dokter akan menghabiskan banyak dana. Lantas adik-adikmu nanti mau dikirimi apa, percayalah San, sakit Emak ini sakit biasa kok, sebentar lagi juga sembuh. Emak kan juga sudah ikhtiar minum obat, jika sudah saatnya sembuh, pasti Allah memberi kesembuhan kepada Emak.” Kata Emak yang masih saja teguh pada pendiriannya. “Tapi Mak, Mak jangan menyiksa diri Mak sendiri, masalah dana Emak tidak usah memikirkannya, biar nanti Hasan dan Abah yang mencarinya, sekarang ayo kita ke dokter Mak…” akhirnya emak mau pergi ke dokter dan betapa kagetnya Emak kalau ternyata ada tumor yang bersarang di otaknya setelah diperiksa. “Astaghfirullahal’adzim… duh Rabbi sebaik-sebaik tempat bersandarku … apa lagi ini, apa aku kuat dengan semua ini, apa aku bisa bertahan dengan semua ini, Rabbi… Rabbi…” Emak menangis diiringi tangisan Hasan dan Abah. Emak bingung harus bagaimana lagi, kini satu-satunya penghasilan yang diandalkan adalah dari gaji pension Abah dan hasil panen ladang.itupun harus dibagi-bagi dengan minim. Pupus sudah harapan Emak untuk naik haji, uang hasil tabungannya sudah habis untuk membeli obat-obatan Emak. Untuk melakukan operasi Emak belum bisa karena belum ada biaya. “Emak tidak boleh kerja lagi dan Emak harus banyak istirahat dirumah, Emak nggak usah khawatir, Hasan akan nyambi kerja di pabrik sebelah” kata Hasan. Tahun telah berganti, Hasan telah meluluskan kuliahnya. Janji hasan umtuk menjadi wisudawan terbaik jurusan teknik sipil benar-benar menjadi kenyataan. Dari tempatnya kuliah Hasan mendapatkan tawaran bekerja disebuah proyek besar pembuatan gedung-gedung bertingkat. Hasan menerimanya dan ia berperan sebagai manager arsitekturnya. Hasan bekerja dengan serius dan hasil-hasil kerjanya selalu mendapatkan pujian dari orang banyak. Hasan tak pernah lupa dengan janjinya pada Emak dulu. Hasan selalu memberikan gaji kerjanya pada Emak. Biaya pendidikan adik-adiknya sebagian juga ditanggung oleh Hasan. Dan tanpa sepengetahuan Emak Hasan juga menabung untuk biaya naik haji Emak. Kini penyakit tumor otak Emak sudah di operasi dan dinyatakan telah bebas dari penyakit. Selang beberapa bulan dana untuk Emak naik haji telah terkumpul, tapi Emak tidak mau berangkat sendiri tanpa Abah, hingga akhirnya menunggu beberapa bulan lagi agar dananya cukup untuk dua orang. Hasan bekerja lebih giat lagi, setiap ada peroyek, Hasan menggarapnya dengan sangat baik dan pada akhirnya dana sudah terkumpul dan cukup untuk dua orang pergi haji. Harapan Emak akan jadi kenyataan. Perjuangan Emak selama ini tidak sia-sia. Keyakinan Emak bahwa suatu saat nanti ia bisa berkunjung ke Baitullah akan segera terwujud. Dan yang lebih membahagiakan lagi, Emak bisa pergi bersama suaminya. Impian-impian Emak telah terwujud.kini adik-adik Hasan bisa melanjutkan sekolah hingga kejenjang perkuliahan. Emak… menangis lagi, kini air mata Emak bukan lagi air mata kesedihan melainkan air mata kebahagian. “Mak, Farah minta oleh-oleh boneka unta yang bisa bicara ya Mak, dari dulu Farah mendambakan boneka itu seperti milik anaknya pak Haji Sholeh.” Kata Farah anak terakhir Emak. “Mak kalau Fadli minta dibelikan jam tangan dari makkah.” Teriak Fadli anak ketiga Emak. “Mak, kalau Syifa minta dibawakan al-qur’an,Syifa ingin jadi khafidzah Mak” Kata Syifa anak kedua Emak. Subhanallah, hati Emak bergetar mendengar itu semua. Ternyata anak-anaknya juga mempunyai impian yang Emak tidak ketahui sebelumnya. Semua keluarga berkumpul di bandara mengantar keberangkatan emak dan abah. Isak tangis kebahagiaan mengiringi perpisahan menuju rumah suci Allah. “Ya Rabbi,yang Maha adil,aku yakin janjiMu itu pasti,janjimu selalu Kau tepati, aku yakin Kau tak abaikan usaha hambaMu. Wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang, terima kasihku yang sangat dalam ku junjungkan hanya pada Mu, Rabbi sambut aku dengan Ridho Mu di altar suci Mu”.batin emak.