FaricHapPy always Be Happy

Jumat, 01 Juni 2012

Penantian Cinta Lebah

    Di siang hari yang terik begitu panas terlihat seekor lebah berputar kesana kemari di antara sekumpulan populasi tumbuhan bunga mawar. Sekian lama lebah itu mengitari satu mawar yang ada di taman. Namun tak ada tanda – tanda kalau bunga itu akan mekar. Padahal sudah satu bulan ini dia selalu mendatangi mawar itu, tapi kenapa masih kuncup juga dan seperti tidak ada tanda – tanda akan mekar. Sedangkan mawar lain yang tumbuhnya bersamaan sudah bermekaran sana – sini. ”Apa karena dia takut denganku ya, hingga dia tidak mau mekar dan memberikan sedikit madunya padaku, padahal setiap kali aku mengambil madu aku tidak pernah serakah, aku hanya mengambil satu tetes saja” batin lebah itu dengan penuh keheranan. Lebah itu pergi dengan kecewa. ^o^
Keesokan harinya dia mengunjungi mawar itu lagi, tapi lagi – lagi dia melihat mawar pilihannya belum mekar juga. “Duhai mawar yang indah, ada apa denganmu gerangan, kenapa kau tak sudi jika aku mengambil madumu” lebah itu mencoba bertanya dengan sang mawar namun percuma saja, kata – katanya seolah ditelan oleh angin saja. Lagi – lagi lebah itu pergi dengan wajah yang lesu tanpa semangat karena mawar pujaannya tak kunjung mekar juga.
Namun semua itu tak melunturkan semangatnya untuk pergi menemui mawar itu lagi. Dengan penuh harap, untuk kesekian kalinya demi mendapatkan hati mawar itu. Tapi sayangnya untuk kesekian kalinya pula dia hanya bisa menelan ludah saja. Mawar itu belum juga mau memekarkan bunganya “Sebegitu sengitnya kau denganku hingga ku tak boleh mengambil madumu’.gumamnya dalam hati.
“Apa kau benar – benar tak mau mekar sampai kau layu?”.
“atau sampai kapan kau akan kuncup terus?”
“Apakah sampai aku bosan menemuimu?”
“jujur ya, aku tidak bisa berpaling darimu wahai mawar, kau istimewa bagiku, kau berbeda dengan mawar – mawar lainnya”.
Kepala lebah itu di penuhi dengan tanda tanya besar yang belum juga terjawab.
“Apa aku harus cari yang lain saja ya?”
“Aku tak tau sampai kapan aku akan menungguinya?”
“Bodoh juga aku, menunggui sesuatu yang tak pasti ujungnya”. gerutu lebah dengan kesal.
Lebah itu sepertinya sudah tak sanggup lagi, hampir saja dia putus asa dan memutuskan untuk mencari mawar yang lain. Baru beberapa jangkah dia terbang,tiba- tiba dia dikagetkan dengan suara di belakangnya.
“Hei lebah, mau kemana kau?, apa kau mau mencari mawar lain?, jika memang kau yakin dengan mawar itu bahwa mawar itu adalah mawar pilihanmu, maka tungguilah terus jangan kau berpaling pada yang lain dulu, karena itu ujian untukmu, seberapa besar kesabaranmu menantinya, mungkin saja mawar itu sedang mengujimu apakah engkau benar – benar tulus menyukainya?” kata Pak Tani yang tanpa sepengetahuan lebah ia selalu memperhatikannya. Lebah kaget tak terkira bahwa ternyata ada yang memperhatikan gerak – geriknya selama ini.
Berkat nasehat dari Pak Tani, lebah seperti punya semangat baru, rasa putus asa itu luntur dalam dirinya. Matahari seolah terbit kembali, burung – burung berkicauan, langit cerah awan beriringan. Lebah itu terus melakukan kebiasaaannya tiap hari tanpa rasa putus asa walau dia tidak tau kapan akan berakhir dan mendapatkan madu dari mawar itu.
Dalam batinnya mawar berkata “ Sebenarnya aku sudah bosan menguncupkan diriku terus seperti ini, aku ingin bebas memekarkan diriku menghirup udara yang segar, tapi…… aku bosan juga dengan lebah yang setiap hari menghampiriku menunggui aku mekar. Aku tak mau maduku di ambil olehnya,hftt..”
“Aku tak suka dengannya, kenapa dia tak mengerti juga sih, cepat pergi jauh dariku, jangan kesini lagi, aku sudah bosan melihatmu..!!” geram mawar. Namun sia – sia saja mawar menggeram dalam hati karena si lebah tidak akan pernah bisa tahu dengan isi hatinya yang sebenarnya sangat benci dengannya.
Hari berikutnya lagi dengan rasa yang tak putus asa, seperti biasa lebah berputar – putar mengitari mawar itu lagi, seperti sedang mencari cara – cara lagi agar mawar mau menampakkan wajahnya. Hampir satu jam lebah berputar – putar tapi belum menandakan apa yang akan diperbuatnya.
“Aku harus bisa….3x”
“Aku tidak pantang menyerah, aku pasti bisa” sambil berputar – putar lebah mensuport dirinya sendiri. Sedangkan mawar lagi – lagi hanya gemas dengan tingkah laku si lebah. “ Pergi lebah jelek……..!!!! berisik…!!!! Suara bisingmu mengganggu ketenanganku…” teriaknya pada lebah. Namun percuma saja mawar berteriak tapi lebah tidak bisa mendengarnya.
“Oh mawarku, mawar pujaan hatiku, mawar penawar rinduku, kenapa dengan kau ? kenapa kau seperti ini denganku ? kenapa kau enggan sekali melihatku barang satu detik saja. Jika memang kau tidak suka padaku tidak apa – apalah, tapi berilah aku kesempatan untuk sekedar memandang wajahmu atau mendengarkan suaramu walau itu hanya sekedar kata “tidak” dan meski itu akan menyakitiku “ kata lebah dengan penuh memelas.
Mendengar rintihan si lebah mawar menjadi agak tersentuh hatinya, membukakan sedikit hatinya, menyadari bahwa telah banyak pengorbanan yang sudah lebah lakukan padanya. Tapi sayangnya itu semua belum cukup membuat mawar untuk memekarkan bunganya. Ia masih belum bisa percaya dengan si lebah, ia takut ia akan terkena tipu dayanya.Ia takut dia seperti lebah - lebah yang lain.
Hari sudah menjelang sore , si lebah sudah merasa kelelahan, dari pagi sampai sore lebah tak henti – hentinya berputar – putar mengelilingi mawar pujaannya demi mendapatkan madunya, demi mendengarkan suaranya dan demi melihat mekar wajahnya yang indah. Namun semua itu sia – sia dan sia – sia lagi. Lebah tidak mendapatkan apa yang diidam – idamkannya. Tubuhnya sudah lemas, tenaganya telah terkuras habis, apalagi dari tadi perutnya belum terisi apa – apa. Hingga akhirnya lebah memutuskan untuk pulang saja dan akan kembali keesokan harinya.
Di keheninga malam si lebah duduk termangu merenungi nasibnya. Dengan ditemani malam yang gelap, bulan yang terang dan bintang yang hanya kelihatan satu dua. Sepertinya langit terlihat mendung. Suara – suara katak yang seolah sedang memainkan paduan suara membuat hatinya sedikit terhibur. Setelah seharian berputar – putar lebah merasa semua badannya pegal – pegal tak karuan.
“Ya Tuhan…, Begitu hinakah diriku ini sampai – sampai mawar sama sekali tak mau melihatku, apa salahku ya Tuhan…..? apa aku tak boleh berteman dengannya, apakah aku yang terlalu hina sehingga aku tak pantas dengannya”
“Ya Tuhan izinkanlah aku menemaninya selalu ya Tuhan. Aku juga tak tahu mengapa
Lebah sangat berharap harapannya dapat terkabulkan. Malam itu menjadi saksi baginya bahwa dirinya benar – benar tulus menyukainya. Malam semakin larut lebah belum juga beranjak dari lamunannya. Tiba – tiba ia merasakan ada suatu anggota badannya yang susah untuk digerakkan. Pelan – pelan rasa sakit itu muncul menghampiri si lebah.
“AAAAAAAAAAAhhhhhh…..aduuuh….sakit sekali..kenapa dengan sayapku ini ? kenapa kaku sekali dan tak bisa ku gerakkan?” rintih lebah.
Si lebah mengerang kesakitan dan tak ada satupun yang mendengarnya karena hari malam sudah terlalu larut dan sepertinya sudah tidak ada lagi mahluk lain yang terjaga. Sungguh malang nasib si lebah, ia hanya bisa tergolek lemah tak berdaya di ranting pohon mangga yang sedari tadi menjadi tempat singgahnya. Sendirian………Kesepian………..tak ada yang menemaninya. “Ya Tuhan sakit sekali ya Tuhan, sesakit hatiku yang tak kunjung juga mendapatkan pujaan hatiku, hatiku hampir hancur dan kini sayapku terluka.” kata lebah.
“Wahai bulan…..dapatkah kau mengatakan padaku, ada apa sebenarnya dengan mawar , kenapa dia jahat sekali denganku, bulan…,jawab bulan….aku butuh jawabanmu, apa kau tega melihatku menderita seperti ini terus? “ lebah berkomunikasi dengan bulan namun bulan tak dapat memberikan jawaban apapun padanya.
Perlahan air matanya menetes ke tanah bersamaan dengan turunnya gerimis membasahi seantero alam raya ini di malam yang kelam bagi lebah. Si lebah sudah tak tahan lagi hingga akhirnya dia menangis merintih – rintih tak tertahankan lagi. Ini adalah pertama kalinya lebah meneteskan air mata, selama ini lebah selalu hidup dalam keceriaan. Segala sesuatu di hadapinya dengan semangat dan tak pernah mengeluh. Baru kali ini hatinya dibuat pilu dan sedih tak terkira.
“Aku ini memang bukan mahluk yang sempurna, selama ini aku hidup dalam kemandirian, aku tak tahu dimana keluargaku berada, aku tak tahu dimana saudara – saudaraku, yang aku tahu aku hanya seekor lebah malang sebatang kara yang tak punya siapa – siapa. Apakah aku memang tak pantas bersanding dengan siapapun? Apakah memang aku tak pantas unutk mendapatkan kasih sayang dan cinta. Apakah sampai akhir hayatku aku memang ditakdirkan sebagai mahluk sebatang kara yang tak patut unutk dicinta” Tanya lebah pada dirinya sendiri.
“Ya Tuhan, jika memang nasibku harus seperti itu, aku mohon Tuhan berikan aku kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai walaupun itu hanya satu menit, mungkin waktu satu menit tidaklah begitu berarti bagi yang lain tapi bagiku waktu satu menit merasakan sebuah cinta sangatlah berarti, sebelum engkau menjemput ajalku dan agar aku tenang meninggalkan hidup ini.” Doa lebah dalam kesedihannya.
Si lebah memang tak mempunyai keluarga dan saudara. Saudaranya saat ini adalah teman – teman sepermainannya. Sejak kecil lebah hidup sendirian. Ia tak tahu kebaradaan keluarganya dimana, apakh masih hidup ataukah sudah mati dia pun tak tahu. Lebah merintih – rintih mencoba berkomunikasi dengan Tuhan , meskipun dia tidak mendapatkan jawaban dari Tuhan, setidaknya dia sudah merasa lega telah berceita banyak pada Tuhan, karena disisi lain lebah yakin Tuhan selalu mendengarkan semua mahluknya dari yang paling kecil sampai yang paling besar, dari mahluk yang terlihat maupun yang tak terlihat. Dia juga yakin bahwa rencana Tuhan adalah sebaik – baik rencana, apapun keputusan Tuhan si lebah akan menerimanya  dengan ikhlas dan lapang dada.
Matahari pagi mulai menampakkan cahayanya. Rumput – rumput dan pohon – pohon terlihat segar oleh embun pagi setelah semalaman diguyur oleh hujan. Semua mahluk mulai melakukan aktifitas seperti biasanya. Ayam – ayam berkokok membangunkan insan – insan  dari tidur lelapnya. Perlahan mata lebah terbuka karena terkena sinar matahari yang menyelundup masuk melalui celah dedaunan. Matanya agak sembab setelah semalaman menangis. Ia merasakan pagi ini sangat cerah, langit yang luas berwarna biru menandakan hari ini penuh dengan semangat baru bagi si lebah. Saking semangatnya ia sampai lupa dengan keadaan dirinya. Seperti biasa setiap pagi setelah bangun ia tidak lupa olahraga kecilmenggerak – gerakkan seluruh tubuhnyadan menghirup udara pagi yang masih segar. Kebiasaan ini membuat badannya terasa bugar dan sehat. Namun belum sempat menggerakkan tubuhnya ia merasakan kesakitan. “Auuuuu……..sakit sekali, aduh aku lupa sayapku yang satu ini sedang sakit, berarti hari ini aku tidak bias kemana – mana termasuk mengunjungi dambaan hatiku itu, hftt..” gerutu lebah.
Pagi ini lebah tak bias kemana – mana, ia harus bias menyembuhkan sayapnya yang terluka terlebi dulu agar bias terbang lagi pergi kemanapun ia suka. Lebah berpikir dengan cara apa dan bagaimana agar sayapnya bias kembali pulih. Lebah mencari – cari cara agar menemukan obat yang pas. Tiba – tiba dia melihat dua ekor burung yang sedang bertengger di sebelah sarangnya. “hmmm…sepertinya mereka sedang pacaran..mengganggu tidak ya jika aku memanggil mereka, sepertinya sih mengganggu tapi aku sangat butuh bantuan mereka, tak apalah aku panggil saja mereka.” gumamnya dalam hati. “Wahai burung…sedang apa kalian di situ, bisakah kalian membantuku?” kata lebah pada kedua burung itu. “ iya wahai lebah, ada apa?, di sini kami sedang menikmati cerahnya pagi ini, sungguh mendamaikan hati kami pagi ini wahai lebah. Ada apa denganmu ? apa yang bias kami bantu untukmu ?” sahut burung.“Begini teman, saat ini sayapku teasa kaku dan tak bias ku gerakkan, sepertinya sayapku terluka, karena ini sekarang aku tak bias terbang dan pergi kemana – mana. Bisakah kalian mencarikan obat untukku?”pinta lebah pada mereka.
Kedua burung itu belum menjawab permintaan lebah, sepertinya mereka sedang berdiskusi apakah ada obat yang bias menyembuhkan sayap lebah. Menuggu jawaban mereka lebah merasa gelisah kalau – kalau tidak ada obat yang bisa mengembalikan sayapnya agar kembali normal.” Yups lebah kami tahu obatnya apa?” kata burung. “Apa teman?” tanya lebah dengan girang. “Aku ingat dulu syapku juga pernah terluka dan hamper patah kemudian aku mengobatinya dengan daun yang berkhasiat mengobati sayap patahku, dan jelang beberapa hari sayapku kembali pulih dan aku bias terbang lagi dengan bebas, mungkin kau bisa mencobanya siapa tahu bias juga menyembuhkan sayapmu yang terluka.” kata burung.
“Baiklah teman,,tapi dimana aku bisa mendapatkan daun itu sedangkan aku tak tahu dimana letaknya, bentuknya seperti apa saja aku tak tahu  apalagi sekarang dengan kondisiku yang seperti ini. Hmmm… maukah kau bersedia mencarikannya untukku wahai burung ? pinta lebah pada burung. “Baiklah lebah kami akan coba mencarikannya untukmu, tunggulah di sini dan jangan kemana – mana. Tidak usah sungkan – sungkan, sesame mahluk haruslah saling tolong menolong bukan?” jawab burung. “Terima kasih banyak teman, kau memang teman yang baik.”
Kedua burung itu pergi meninggalkan lebah untuk mencari daun yang dimaksud. Sedangkan lebah menuggu kedatangan burung dengan was – was apakah burung akan mendapatkan daun itu atau tidak . Lebah tak bias membayangkan apabila dia harus kehilangan satu sayapnya. Dia tidak akan bias lagi terbang jauh menembus awan bahkan dia tidak akan bias lagi menghampiri pujaan hatinya, si mawar yang cantik.
Selang beberapa menit wajah lebah yang tadinya muram berubah menjadi cerah setelah melihat kedatangan burung membawa beberapa helai daun. Setelah itu burung membantunya menumbuk daun – daun itu dan kemudian mengoleskannya di sayap lebah yang terluka itu. “Sabar ya lebah, tunggu sampai beberapa hari dan jangan banyak bergerak, mudah – mudahan sayapmu akan cepat kembali pulih” kata burung. “Iya teman, terima kasih banyak, sungguh aku tidak bias membayangkan apabila tak ada kalian bagaiman nasibku sekarang. Aku sangat berhutang budi pada kalian. Aku tak akan melupakan kebaikan kalian seumur hidupku. Sekali lagi terima kasih teman.”kata lebah. “Sama – sama lebah. Kami pergi dulu ya,,kapan – kapan kmai akan main lagi ketempatmu” kata burung sambil terbang menjauh dari lebah. Lebah bahagia tak terkira. Ia merasa baru saja bertemu dengan malaikat yang sangat baik hati yang mau menolongnya.
Selang beberapa hari lebah merasa sayapnya telah pulih kembali dan bias ia gunakan untuk terbang. “Terima kasih ya Tuhan……….Engkau telah mengembalikan separuh hidupku lagi”puji lebah pada Tuhan. Si lebah telah menemukan semangatnya kembali. Dia teringat dengan pujaan hatinya yaitu si mawar cantik. Bayangannya selalu melekat dalam benaknya. Si lebah kembali dengan kebiasaannya yaitu mengunjungi si mawar. Ia berharap kini ia telah memekarkan bunganya. Tapi…lagi – lagi lebah merasa kecewa. mawar itu belum juga mau mekar. “Oh mawarku…sampai kapan kau akan terus begini, selalu menghindariku, baiklah mawar sekarang aku tak akan memaksamu untuk menyukaiku, aku hanya ingin kamu mau berteman denganku, hanya itu mawar. Kumohon mawar mekarkanlah wajahmu” kata lebah pada mawar.
Mawar masih tetap diam tak mengatakan apa – apa. Dalam benaknya mawar berkata “wahai lebah…taukah kau selama ini aku memang sangat benci denganmu, kedatanganmu sangat menggangguku,aku tak mau memekarkan wajahku terus agar kau putus asa dan tak lagi menghampiriku. Tapi ternyata itu tak membuatmu putus asa, kau selalu saja tak bosan menghampiriku setiap hari. Mendengar engkau kemarin sakit dan sayapmu terluka aku jadi merasa sangat bersalah. Aku merasa aku amat sombong. Aku merasa tak punya perasaan denganmu. Aku jahaaaaaat. Setelah itu aku berpikir tak ada lebah yang sesetia seperti dirimu. Banyak aku temui lebah – lebah yang berpindah – pindah dari mawar satu ke mawar yang lain. Ternyata pikiranku selam ini salah dengan menganggapmu sama seperti lebah – lebah yang lain. Setelah itu aku khawatir dengan kesehatanmu. Aku akan merasa menjadi mahluk yang palin berdosa jika sampai terjadi apa – apa denganmu. Selama ini dengan gelisah aku menuggu kedatanganmu lagi dan aku ingin minta maaf padamu. Sungguh aku sangat bahagia melihatmu menghampiriku lagi hari ini. Dari kemarin aku sudah mempersiapkan diriku untuk memekarkan bungaku untukmu.” Kata mawar dalam hati. Perlahan mawar memekarkan bunganya, namun belum sempat lebah melihat wajahnya, tiba – tiba dating angin kencang menghempaskan tubuh lebah dengan kerasnya hingga lebah jatuh ke tanah dan membuatnya tak sadarkan diri.
Sementara mawar telah dengan penuh memekarkan bunganya. Wajah cantiknya telah nampak sempurna. Warnanya merah mempesona. “Lebaaaaaaaaaaaaaaahhhh….”teriak mawar pada lebah. Mawar menangis melihat lebah jatuh tak sadarkan diri. “Lebah bangunlah,,mafkan aku selama ini yang telah jahat padamu, aku sadar aku telah menjadi mahluk yang sombong padamu. Aku mohon lebah bangunlah. Kini aku telah bersedia menjadi temanmu dank au boleh ambil maduku sesuka hatimu. Aku mau menemanimu sampai mati. Aku mau menjalani suka duka denganmu. Lebah bangunlah aku mohon…” teriak mawar dengan isak tangisnya.
Perlahan lebah membuka matanya. Ia mendapatkan mawar pujaannya telah memekarkan bunganya. Melihatnya lebah sangat bahagia. Kini mereka telah menjadi sepasang mahluk yang saling menyayangi dan menicintai meski mereka dari jenis yang berbeda.
Kesabaran membawa kesuksesan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar