FaricHapPy always Be Happy

Rabu, 26 Desember 2012

Milikku adalah Milik-Mu

-->
                                               ﺒﺴﻢﷲﺍﻠﺮﺤﻣﻦﺍﻠﺮﺤﻳﻡ



A
ku adalah seorang musafir , aku mengembara dari tempat satu ke tempat yang lain demi menegakkan agamaku yaitu Islam. Aku tak tahu siapa aku sebenarnya,dari mana asalku,siapa orang tua kandungkupun aku tak tahu. Dari kecil aku tinggal di sebuah pesantren salafiah di daerah Kebumen tepatnya  Pondok Pesantren “al Kahfi”. Di situ aku dibesarkan,di situ aku belajar ilmu agama dan disitu pula aku berbaur dengan berbagai santri dari berbagai daerah. Aku selalu bertanya-tanya, siapa sebenarnya aku ini? Dimana pula orang tua yang telah melahirkanku?tapi tak pernah kudapatkan jawabannya. Aku sedih ketika melihat teman-temanku bisa dijenguk oleh orang tua dan saudara-saudaranya,bercengkerama dengan akrab,sungguh aku iri dengan mereka. Selama bertahun-tahun aku berada di pesantren ini belum ada sanak saudara yang menjengukku. Selalu saja air mataku jatuh ketika melihat teman-temanku bisa bertemu dengan keluarga asli mereka. Kemanakah keluargaku? Rabbi…. Apa aku ini anak buangan? Sungguh malang nasibku.
Tapi….aku sadar aku tidak boleh sedih terus,aku harus lebih bersyukur karena masih ada orang yang peduli,perhatian dan sayang padaku. Orang yang selama inii sangat berjasa dalam hidupku,yang merawatku dengan baik,bahkan menyekolahkan aku sampai ke jenjang perkuliahan. Beliau adalah pemilik sekaligus pengasuh Pesantren yang aku tinggali sekarang,namanya Pak Kyai Hasan Abdullah,biasa dipanggail Pak Kyai Hasan. Beliau sdah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Semua biaya hidupku di tanggung oleh beliau,oleh karena itu aku tak menyia-nyiakannya “jangan sampai aku mengecewakan beliau” ,itulah prinsipku.
Pernah suatu hari aku bertanya pada beliau tentang keberadaan orang tuaku, tapi beliau menjawab tidak tahu siapa sebenarnya orangtua kandungku,beliau hanya memberi tahu kalau dulu beliau menerimaku ketika aku masih berumur 5 th. Beliau menerimaku dari seseorang yang katanya menemukanku di sekitar tempat kecelakaan pesawat yang terjadi 17 th silam. Dipergelangan tanganku terpakai gelang yang bertuliskan namaku yaitu “Neil”,aku tak tahu nama panjangku karena di gelang yang aku pakai hanya tertuliskan kata Neil.Kemudian Pak Hasan menambahinya dengan kata Abdillah.  Orang itupun tak tahu dimana orang tuaku,mungkinkah orang tuaku telah tewas dalam kecelakaan pesawat tersebut? Wallahua’lam.Aku sungguh sungguh tak ingat kecelakaan yang menimpaku saat aku berumur 5 th itu.
Dan kini usiaku sudah 22 th,aku sudah besar aku pun telah meluluskan kuliahku,Alhamdulillah kini akupun telah mendapatkan gelar dari studi S1 yang telah aku tempuh selama 4 th sebagai Sarjana Hukum Islam. Semua itu tak lain adalah berkat jasa Pak Kyai.Rasa terimakasihku tak akan dapat menggantikan semua jasa-jasa beliau kepadaku. Maka dari itu aku harus patuh dan taat pada beliau. Selain itu,disitu pula aku telah menamatkan pendidikan madrasah diniyah di pesantren ini.Dan seperti biasanya,di pesantren ini ada kegiatan rutin setiap tahunnya yaitu mengirimkan santri-santrinya ke daerah-daerah yang di anggap pengetahuan tentang agamanya masih kurang,khususnya agama Islam untuk berdakwah. Biasanya santri-santri yang dikirim adalah santri yang dianggap telah mampu,ada yang sudah tamat diniyahnya ada pula yang belum. Dan kini aku ikut diberi tanggung jawab oleh Pak Kyai untuk ikut bersama rombongan dakwah,sebenarnya ini sudah ketiga kalinya aku ikut seperti ini. Kami akan dikirim ke daerah Gunung Kidul. Rombongan kami terdiri dari 50 orang yang nantinya akan di sebar ke setiap desa dan masing-masing desa terdiri dari 5 0rang. Kami menamai rombongan kami dengan nama “MUJAHID all KAHFI”. Kami berangkat dengan membawa banyak bekal yang kira-kira cukup untuk hidup satu bulan. Dengan semangat dan niat jihad fisabilillah kami berangkat menuju Gunung Kidul yaitu suatu daerah terpencil di kota Jogjakarta. Walaupun aku sudah sarjana aku tidak malu berbaur dengan teman-temanku yang rata-rata hanya tamat MA (Madrasah Aliyah) saja,tapi ada juga yang sudah S1 sepertiku namanya Zikra, dia kuliah di perguruan tinggi yang sama denganku,dia juga partner baikku,kami pun lulus dalam waktu yang sama.

 
Kami telah sampai di tempat tujuan kira-kira jam 15.00 sore. Sebelumnya kami telah membagi kelompok kami,dan kelompokku kejatuhan tugas ke daerah yang paling terpencil di daerah ini. Namanya desa Songbanyu,desa ini bisa dikatakan terisolir karena untuk menjangkau desa ini saja kami harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer,sebab belum terbangunnya infrastruktur jalan yang memadai. Untuk bisa menikmati siaran televisi saja masih kesulitan,apalagi menangkap sinyal dari jaringan telepon seluler. Lelah sekali rasanya tubuh ini,dan alhamdulillah sebelum waktu ashar tiba,kami telah sampai pada tujuan.
 Kami disambut dengan ramah oleh bapak kepala desa di sini,namanya Pak Fajar. Beliau mempersilahkan kami untuk istirahat dulu,bapak ini sangat baik,beliau telah mempersiapkan kamar untuk kami selama kami berada di tempat ini. Sembari melepas lelah setelah melakukan perjalanan yang lumanyan jauh kami disuguhii berbagai makanan oleh Pak lurah yang sekaligus sebagai Pak Kyai didesa ini. Sebelum terjun ke lapangan dari kami di persilahkan untuk mandi dulu karena ternyata bau tubuh kami sangat tidak enak karena keringat. Sebelumnya kami telah ada kesepakatan dengan Bapak Fajar bahwa daerahnya akan di kunjungi oleh kami. Beliau juga sangat senang atas kedatangan kami ke desanya,karena beliau merasa warganya masih sangat kurang dalam hal agama khususnya Islam,karena mayoritas penduduknya beragama Islam,jadi bebannya semakin berkurang karena kedatangan kami. Sambil menunggu datangnya waktu maghrib kami berbincang-bincang dulu dengan Pak Fajar mengenai apa saja yang akan di sampaikan pada warga dan bagaimana cara menyampaikannya agar warga tidak salah tafsir dan tidak merasa terbebani,serta  tidak terganngu dengan kedatangan kami.
 “Nak maklum saja ya apabila nanti ade’-ade’ semua menemukan warga kami yang masih ketinggalan informasi,soalnya tempat kami ini memang masih terisolir,untuk bisa menonton tv warga sini harus membeli parabola dulu,tapi itu bagi keluarga yang mampu, yang tidak mampu ya hanya numpang di tempat tetangga yang punya,jadi kaya tempo dulu saja. Demikian pula jika ada warga yang ingin berkomunikasi lewat telepon seluler harus naik ke atas bukit untuk mendapatkan sinyal,itupun tidak semua jaringan seluler bisa di tangkap di wilayah desa ini,he..he…” cerita Pak Fajar. Kami pun ikut tertawa mendengar cerita Pak Fajar.
 “Sebenarnya desa kami sudah meminta pada pemerintah untuk membangun berbagai infrastruktur agar memudahkan masyaraklat namun, belum ada tanggapan,dan yang lebih menyedihakn lagi anak-anak disini jika mau sekolah harus berjalan berkilo-kilo karena di sini belum di bangun sekolah” sambung Pak Fajar lagi.
 Ternyata seperti ini yang dirasakan mereka,sebagian besar penduduknya menyambung hidup dengan cara bertani,yang beruntung bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi namun sayang,mereka yang kurang beruntung paling-paling bisa menyekolahkan anaknya sampai tingkat SD saja. Kini aku sadar aku harus lebih banyak bersyukur lagi karena apa yang dialami mereka ternyata lebihi mengharukan di bandingkan aku,aku termasuk orang yang beruntung walau kedua orang tuaku telah tiada.Ya Tuhan..ampuni aku. Beliau juga bercerita kalau warganya masih banyak yang melakukan kebiasaan mengadu binatang,berjudi dan minum – minuman keras,padahal mereka mengaku beragama Islam. Masyaallah…aku hanya bisa mengelus dada. Saking asyiknya kami berbincang-bincang hingga tibalah waktu maghrib dan kami cukupkan bincang-bincangnya.
Kami bersiap-siap menunaikan shalat maghrib bersama keluarga  Pak Fajar menju ke masjid yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah beliau untuk menunaikan shalat berjamah. Masjidnya termasuk besar,bersih dan terjaga namun sayangnya  warga yang datang ke masjid masih jarang sebagian besar hanya orang tua saja,para remajanya pun hanya beberapa gelintir saja. Bapak Fajar sebagai imamnya,setelah selesai beliau mengumumkan pada warga bahwa desanya kedatangan kami yang Insyaallah akan membawa perubahan di desa ini.
  Alhamdulillah kami di sambut baik oleh warga,dengan harapan kami bisa membawa warga yang agamanya masih  Islam KTP menjadi seorang muslim dan muslimah sejati serta dapat mengaktifkan kembali kegiatan-kegiatan remaja masjid yang kini telah vakum serta TPQ yang kini tidak ada muridnya,hanya tersisa gedungnya saja. Sungguh aku miris melihat keadaan di sini,jarang sekali terdengar suara  lantunan al Quran serta orang –orang mengaji. Dari sini timbul semangatku untuk mengubah keterpurukan menjadi masyarakat yang Islami,aku harus bisa dan aku pasti bisa.ALLAHU AKBAR….                                                  
Semboyan kami “takkan menyerah sebelum maut menjemput”, dan kami yakin bahwa pertolongan Allah selalu bersama orang-orang yang bertakwa, maka dari itu kami akan terus maju,pantang menyerah demi sebuah kebenaran. Bersama menuju satu tujuan yaitu Ridho Illahirabbi. Usai shalat isya warga telah berkumpul dalam masjid,yang datang lumayan banyak yang tadinya tidak ikut berjamah di masjid mulai datang berduyun-duyun mendatangi masjid,para remajanya pun ikut,mungkin karena tadi sehabis maghrib Pak Fajar telah mengumumkan kedatangan kami disini mereka juga mengumumkan pada warga yang tidak hadir juga. Kami senang karena ternyata antusias mereka sangat besar. Walaupun tidak ada yang tahu apakah semua yang hadir di sini shalat 5 waktunya terpenuhi semua atau tidak. Mungkin dari mereka ada yang mau tobat,ya semoga saja.
Acara dimulai dengan pembukaan sambutan oleh Pak Fajar. Beliau menjelaskan pada warga apa tujuan kami datang ke desa ini,dan apa saja yang akan kami berikan pada warga sini. Setelah itu dari pihak kami yang mewakili adalah aku sendiri,awalnya aku sedikit grogi tapi teman-teman memaksaku agar aku yang mewakili mereka.



Kegiatan kami di situ sangat padat,mulai dari dakwah di masjid dan mushola-mushola serta mengajari anak-anak TPQ,selain anak-anak,orangtua-orangtua juga turut ikut serta karena masa muda mereka tidak mereka gunakan untuk mengaji,sehingga kami merasa agak kesulitan mengajari mereka,otak meereka sudah sulit untuk menangkap pelajaran,tapi itu tidak menyurutkan semangat kami dalam mengajari mereka, justru itulah tantangan bagi kami yang harus dapat kami pecahkan. Kami tak henti-hentinya meminta pertolongan padaNya agar perjuangan kami dapat membuahkan hasil. Walaupun banyak kesulitan yang kami temui kami tidak putus asa,kami tidak akan berhenti sampai di sini karena ini merupakan amanah yang harus kami gugurkan dari beliau Pak Kyai kami. Hari – hari kami lalui dengan suka cita,mandi disungai,melewati jalan yang berliku – liku dan yang lebih berkesan lagi di situ kami makan – makanan yang sebelumnya belum pernah kami rasakan yaitu makan belalang,kami mencarinya di sawah – sawah kemudian kami masak bersama. Ide itu kami dapatkan dari penduduk di situ juga,mereka biasa mencari belalang untuk di jadikan lauk. Tak ada ayam,belalangpun jadi,begitulah pepatah yang dapat dikatakan untuk mereka dan kami juga.
 Suatu pagi hari setelah kami pulang dari sungai kami dikagetkan dengan kedatangan lima pemuda bergaya seperti berandal,mungkin inilah yang dimaksud Pak Fajar,warga yang mengaku Islam namun tak pernah  shalat,dari tampang mereka pun sudah kelihatan.mereka melolongkan suara di depan rumah pak Fajar,seperti sedang ada demonstrasi.Sedangkan Pak Fajar berada di depan berusaha menenangkan suasana. Kami pun menghampiri mereka.
 “Maaf ini ada apa yaa,kok ribut – ribut seperti ini?” tanyaku pada mereka.
 “Nah ini nih biang keroknya sudah pada datang,HAI anak muda sebenarnya dari awal kami sudah curiga pada kalian semua,kalian semua telah mengajari semua warga di sini dengan aliran – aliran sesat kalian,sejak adanya kalian di sini mereka tak ada lagi yang mau bergaul dengan kami,ajaran apa yang sudah kalian jejali ke otak mereka,HAH”,kata salah satu dari mereka dengan suara lantang dan menantang.

”Tunggu dulu anak muda,tenanglah jangan bicara dengan emosi seperti ini,mari kita bicarakan dengan tenang di dalam, tidak enak di lihat oleh warga sini”aku mengajak mereka untuk membicarakannya di dalam.
”Alaah..tak perlu,sekarang kami minta kalian cepat tinggalkan tempat ini!!!” bentak mereka. Kata – katanya semakin membuat kami agak marah,kami hampir saja berkelahi dengan mereka,namun segera kami sadar kalau perkelahian bukanlah cara untuk memecahkan masalah tapi akan semakin menambah masalah.
“Begini anak muda beri kami kesempatan untuk menjelaskan dulu,baru kalian memutuskan untuk mengusir kami,kedatangan kami kesini bukanlah untuk mengajarkan aliran – aliran sesat yang kalian katakan, justru kedatangan kami di sini untuk mencegah kalian aliran sesat tersebut, ajaran yang kami sampaikan adalah syariat dari Allah,mengajarkan sholat,mengaji dan cara bergaul yang baik. Sekarang kalian lihatlah sendiri pada diri kalian apa kalian termasuk orang – orang yang menjalankan syariat – syariat Allah,sedangkan kalian mengatakan kalau agama kalian Islam,lalu mana buktinya kalau kalian beragama Islam,apa cukup hanya dengan KTP??”kataku.
Mereka hanya diam memperhatikan kata – kataku. Salah satu dari kamii menambahkan lagi,yaitu Rizal.
 “Apa kalian tidak malu dengan warga,justru kalianlah yang salah,mereka telah tau mana yang dilarang oleh agama dan yang diperbolehkan oleh agama,maka dari itu setelah mereka mengetehuinya mereka tidak lagi bergaul dengan kalian,karena apa? Karena kalian tidak menjalankan syariat – syariat agama kalian sendiri. Jangan salahkan kami dengan mengatakan kami telah membawa aliran – aliran sesat,sekarang saya tanya jika yang kami ajarkan adalah aliran sesat lalu aliran yang benar itu seperti apa,apa yang namanya mengadu binatang,meminum minuman keras,berjudi dan semacamnya itulah yang kalian sebut sebagai aliran yang tidak sesat?”.
Lagi – lagi mereka hanya bisa diam,tak ada lagi kata- kata yang bisa mereka gunakan untuk membela diri. Pak Fajar pun angkat bicara
“Sekarang kalian sudah tau mana yang benar,apa kalian masih berani bilang kalau kedatangan mereka membawa aliran sesat,justru kalianlah yang harus merubah kebiasaan kalian,kalian mengaku Islam tapi tak pernah sholat,itu semua karena kalian tidak mengetahui agama kalian sendiri,maka dari itu sadarlah mulai sekarang tinggalkan kebiasaan – kebiasaan buruk kalian dan bergabunglah bersama anak muda – anak muda ini,mereka akan mengajari kalian tentang Islam,agama yang membawa kedamaian dan keselamatan” kata beliau dengan bijaksana.
Para Anak muda itu pun meninggalkan kami. Alhamdulillah masalah kami telah teratasi,hampir saja kami terusir dari sini,namun karena kami dapat memperjelas pada mereka bahwa aliran yang kami bawa bukanlah aliran sesat kami tetap bisa berada di sini.
Sehabis maghrib seperti biasa kami mengkaji alquran bersama warga dan Subhanallah…maha sucinya Allah dengan segala kuasaNya,aku melihat anak muda yang tadi pagi berpakaian berandal menuduh kami sebagai pembawa aliran sesat kini mereka mengenakan baju koko dengan sarung lengkap dengan pecinya mengajii bersama kami di barisan paling belakang. Aku senang melihat mereka mau bergabung bersama kami,ternyata Allah telah membukakan pintu hidayah untuk mereka, trimakasih ya Tuhan. Setelah selesai mengaji para anak muda itu menghampiri kami dan menyalami kami semua.
 “Assalamu’alaikum ka’”,para pemuda itu memberi salam pada kami.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah anak muda”, jawab kami.
“Kak kami sangat berterimakasih dengan kakak – kakak semua,karena kakak – kakak semua telah menyadarkan kami kalau selama ini kami berada dalam jurang kesesatan,trimakasih kak…terimakasih banyak,untung ada kakak – kakak semua kalau tak ada kakak semua apa jadinya kami nanti,kami akan jadi penghuni neraka abadi. Maafkan kami juga kak atas perbuatan kami tadi pagi,kami janji kak kami tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi,kami akan menjalankan syariat – syariat agama kami yaitu Islam.” Mereka menangis menyesali perbuatan mereka. Kami semua terharu dengan peristiwa ini.
”Syukurlah sobat kalian semua telah bertobat,Allah telah membukakan pintu hati kalian,Allah pasti menerima tobat kalian,sekarang kalian telah bertobat berjuanglah kalian untuk mendapatkan ridhoNya,dan jalankanlah syariat – syariatnya dengan baik jangan sampai kalian melalaikannya.”kataku
Tak ada yang tahu rencanaNYa memang,segala sesuatu telah di atur olehNya.Tak ada yang mampu menandingi kebesarannNya.Tuhan penguasa seluruh alam ini.
Sudah hampir satu bulan kami di sini,banyak sudah perubahan yang terjadi di desa ini.Masjid telah penuh dengan warga yang berjamaah dan mengaji,lantunan suara orang membaca al Quran pun sudah banyak terdengar ketika kami melewati rumah-rumah penduduk.Para remaja masjid pun kini telah aktif dengan kegiatan – kegiatannya.Kami senang dan bersyukur karena antusias warga dalam mempelajari Islam cukup besar. Dan yang membuat kami bersyukur lagi kini para remaja putrinya pun sebagian besar telah mengenakan pakaian tertutup dan berjilbab.
Suatu kali aku di kejutkan dengan datangnya surat dari seorang anak perempuan berisi ungkapan kagumnya padaku dan rasa terimakasihnya karena sudah mau membimbing warganya ke jalan lurus.Puji syukur ini semua berkat pertolonganNya.
Tiga hari lagi tugas kami telah selesai,kerja keras yang tak sia – sia,perjuangan kami selama di sini menghasilkan kemajuan yang pesat,segala halang rintang dapat kami atasi dengan baik.Para pemuda di sini kini juga sudah terlatih,mereka sudah mampu berdakwah walupun masih di depan anak – anak TPQ. Itu membuat kami tak khawatir untuk meninggalkan mereka karena Insya Allah masyarakat di sini telah berjiwa Islami. Tuhan…trimakasih atas Hidayah yang Kau berikan,atas pertolonganMu dan atas KebesaranMu… Semoga setelah kami pulang nanti semuanya tidak berubah seperti dulu lagi,masjid sepi,jarang orang sholat,jarang yang melantunkan ayat – ayatMu dan mengaji seperti sekarang ini.Kini,desa ini terasa tentram dan damai dengan lantunan ayat – ayatMu di seantero rumah – rumah warga,anak –anak kecil riang gembira berangkat mengaji di TPQ.
“NEIL..!!!,ada seorang gadis yang mencarimu katanya dia ingin bicara sesuatu denganmu”,teriak Zikra padaku dengan menepukkan tangannya pada pundakku,suaranya membuyarkan lamunanku.
“Ada apa tho Zik,mengagetkan aku saja kau,hampir copot ini jantung”,timpalku padanya
“Itu..ada seorang gadis yang mencarimu,sekarang dia menunggumu di aula TPQ,cepat hampiri sana”,Zikra menarik- narikku yang sedang duduk di bawah pohon.
“Ah,yang benar saja kau Zik,masa’ ada  gadis yang mencariku?”,tanyaku seolah tak percaya.
“Sudahlah tak usah banyak tanya,dia sudah dari tadi menunggumu,nggak usah GeEr dulu kau karna seorang gadis yang ingin menemuimu.”Zikra terus saja memaksaku,akhirnya aku putuskan untuk menemuinya.
Mungkin karena sudah terlalu lama gadis itu menungu di dalam,aku melihat gadis itu diluar dengan wajah menunduk lesu dan terpancar kesedihan di wajahnya. Gadis itu berjilbab putih  berpakaian cokelat muda panjang muslim menutupi semua tubuhnya. Menurut perkiraanku gadis ini masih berumur sekitar 17 tahunan. Menurut keterangan Zikra gadis ini bernama Afifah. Aku mendekatinya.
“Assalamu’laikum ukhty…apa adik yang mencariku?”tanyaku pada gadis itu,namun gadis itu hanya diam dan menunduk.
“Assalamu,alaikum. . .”aku ulangi sekali lagi salamku,dia menjawab dengan lirih dengan wajah yang tetep menunduk. Aku bingung aku harus bagaimana,aku tak tahu maksud diamnya.
Sejenak kami hanya saling diam,tak ada suara dariku maupun darinya. Ku tunggu – tunggu suara muncul dari mulutnya namun tak kunjung muncul juga. Hampir saja aku meninggalkannya tiba – tiba terdengar isak tangis dari gadis itu, membuat aku tak tega meninggalkannya.
“Kak Neil. . .,apa benar kakak mau meninggalkan desa ini tiga hari lagi?”untuk pertama kalinya aku dengar dia berbicara walau dengan masih menahan tangisannya.
Aku terdiam mendengar kata – katanya. Dan gadis itu mulai mengangkat wajahnya.
“Kak Neil, terus terang saja surat yang tempo hari itu adalah buah tanagan tulisan Fifah,maaf fifah telah lancing, Fifah berat mau melepaskan kakak semua pergi meninggalkan kami, Fifah ingin kak Neil tetap di sini,mengajari kami ngaji,sholat dan membaca al Quran dengan benar. Fifah sedih kak nanti kalau kakak pergi siapa yang akan mengajari kami lagi,membimbing kami?”rengek gadis itu
Kini giliranku yang terdiam terpaku,aku tak menyangka dia akan bicara seperti itu.
“Kak perlu kakak ketahui ya…,gadis yang sekarang ada di depan kakak ini ,yang sekarang sedang memakai baju muslim dan berjilbab ini ,semua ini berkat kakak , berkat kata – kata yang biasa kakak dakwahkan di masjid. Kakak tidak pernah tahu kalau dulunya aku adalah seorang gadis yang tak tahu agamaku sendiri,tak berjilbab dan tak menutup auratku sepenuhnya, aku bahkan tak bisa mengaji,shalatpun masih bolong – bolong, tapi sejak kedatangan kakak – kakak semua di sini aku sadar dengan semua kesalahan – kesalahanku,aku sadar selama ini aku telai mengabaikan perintah – peerintahNYA. Berkat kakak pula aku dan teman – teman sekarang sudah bisa mmbaca Al Quran dengan baik, kami sangat berterimakasih dengan kaka – kakak semua. Kini seperti yang kakak lihat sekarang aku telah menanggalkan semua pakaian – pakaian ketatku dan menggantinya dengan pakaian muslim seperti ini . Aku juga masih ingat betul ayat al Quran yang kakak ucapkan tempo hari ketika di masjid yaitu surat an Nur ayat 30,aku masih ingat betul ayatnya yang kalau nggak salah artinya seperti ini

“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman,agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,…”

Kata Fifah dengan nada agak sedikit tinngi.
Mendengar kata – kata Fifah hampir saja aku mengeluarkan air mata tapi belum sempat keluar buru – buru aku menyekanya karena aku tidak mau terlihat cengeng di depan seorang gadis. Fifah kembali menunduk sambil sesenggukan menahan tangisnya. Ingin aku menyeka air matanya jika gadis yang ada di depanku ini adik kandungku tapi dia bukanlah siapa – siapaku dan agama melarang untuk bersentuhan dengan yang bukan mahrom,untung aku masih bisa mengendalikan diriku. Segera aku berusaha menenangkannya.
“Dik Fifah…kakak tahu bagaimana peraanmu,sebenarnya kakak dan teman – teman      juga berat mau meninggalakan desa ini, kami serasa telah menjadi keluarga dengan warga desa sini, tapi kami tidak mungkin terus - terusan di sini, kami hanya diberi waktu satu bulan di sini dan setelah ini kami akan menerima tugas baru lagi dari Pak Kyai. Kami cukup senang karena ternyata respon dari masyarakat sini sungguh luar biasa, perubahan yang luar biasa dari sebelumnya, berarti usaha kami tidak sia – sia. Kakak yakin walaupun nantinya kakak dan teman – teman sudah pergi dari sini suasana seperti ini Insya Allah akan terus berjalan. Jadi Fifah nggak usah takut dan khawatir tidak ada yang ngajarin ngaji lagi, itu ada Pak Kyai dan Bu Nyai yang siap mengajari kalian ngaji, para remaja masjidnya juga sekarang sudah aktif lagi, kakak percaya pada mereka,mereka akan bias mempertahankan suasana seperti sekarang ini.”jelasku pada Fifah
 “Iya tapi beda kak!!

“Beda gimana? Insya Allah dengan niat yang lurus demi menegakkan agama Allah, kita akan slalu di bimbing dan di beri petunjuk oleh-Nya. Siapapun yang mengajarimu hormatilah dia dan yakinlah kalau ilmunya lebih tinngi dari pada kita.”
“Sudah,,sekarang hapus air mata Fifah, jangan sedih lagi, kita harus menjadi manusia yang kuat walau badai seribu kali datang dan kakak percaya Fifah pasti bisa,bersegeralah wudlu Insya Allah itu bisa menentramkan hatimu.”pintaku
 “Iya kak, kalau memang begitu keputusannya Fifah akan terima dengan ikhlas. Fifah sadar kalau tadi Fifah egois memaksakan kakak untuk tetap tinggal di sini, padahal perjalanan kakak tidak hanya sampai di sini perjalanan kakak masih panjang. Fifah nggak akan lupa dengan semua jasa – jasa kakak dan teman – teman kakak selama di sini dan Fifah juga akan selalu ingat dengan pesan kak Neil pada Fifah tadi yaitu harus menjadi manusia yang kuat, tidak lemah dan tidak cengeng,ya kak Fifah siap berjuang,tapi jangan lupa kakak selalu mendoakan Fifah di sini ya .”
Perlahan air mata Fifah mengering  dan tak jatuh lagi.
 “Nah gitu dong,,itu baru namanya Fifah.”kataku dengan sedikit membesarkan hatinya.
 “Ya sudah, kakak bangga denganmu Fifah, kakak salut dengan sikapmu. Allah telah memberikan hidayah-Nya padamu. Kakak harap kamu tetap menjaga jilbabmu, pakaianmu dan juga akhlakmu sebagai seorang wanita. Insya Allah jika Allah mengizinkan, kakak akan sempatkan waktu untuk berkunjung ke sini lagi kelak,ya mudah – mudahan. Sebelum kakak pergi apa ada yang mau disampaikan lagi dik?”
“Sepertinya sudah nggak ada lagi kak,Fifah akan slalu ingat nasehat dari kakak,Fifah harap kakak slalu mendoakan Fifah di sini agar bertambah mantap iman dan islam Fifah,juga dengan semua warga di sini”
 “Insya Allah dik, kakak akan slalu mendoakan, Fifah juga doakan kakak ma temen – teman ya agar selalu di beri pertolongan dari-Nya dalam berjuang di jalan-Nya,,,Oya satu lagi dik,ingatlah selalu tujuan utama kita yaitu segala yang kita lakukan hanya untuk meraih ridho-Nya.”
Kami berdua berpisah, Fifah berusaha tersenyum walaupun sebenarnya dalam hati kecilnya berat untuk melepaskan kepergian kami. Aku merasa Fifah adalah adikku sendiri,meski baru pertama kali ini aku bertemu dengannya atau lebih tepatnya berhadapan langsung dengannya aku merasa sudah lama mengenalnya.


 



Waktu perpisahan telah tiba, semalam telah di adakan malam mu’adaah atau malam perpisahn, semua warga berkumpul di masjid yang lumayan besar yang biasa menampung semua warga. Dari pihak kami sambutan di wakili oleh aku, dan dari warga diwakili oleh Pak Lurah serta dari wakil pemudi di wakili oleh Fifah. Semua warga sangat berterimakasih atas kedatangan mereka. Berkat mereka dan tentunya atas pertolongann-Nya suasana desa ini menjadi nyaman, tentram dan damai. Perpisahan di iringi derai air mata dari pihak warga maupun kami. Meskipun berat tapi tidak mungkin kami tetap di situ karena  masih banyak tempat yang akan kami kunjungi . Terlihat Fifah hanya bisa mengintip dari balik pohon, dia tidak kuasa untuk menampakkan dirinya melepaskan kepergian mereka.

Setahun kemudian….

Aku menepati janjiku pada Fifah yaitu akan berkunjung kembali ke desanya. Kedatanganku disambut gembira oleh warga. Alhamdulillah mereka semua masih ingat denganku. Aku mengamati keadaan desa ini, ternyata mereka masih menjalankan apa – apa yang menjadi kewajiban orang islam. Aku merasa senang dengan semua ini. “Puji syukur atas segala kehendak dan rahmatMu ya Allah, Engkau adalah sebaik baik penolong dan penjaga bagi kami”batinku.

Aku agak terkejut ketika itu, aku melihat sosok wanita yang pernah kukenall di desa ini yaitu Fifah. Dia sedang bersama anak – anak kecil di dalm TPQ mengajari membaca al Quran dengan benar dan fashih. Ini mengingatkanku  dulu ketika sedang mengajari warga sini membaca al Quran sulitnya bukan main,,tapi akhirnya dengan kegigihan kami dan juga warga yang tidak mau menyerah, kami akhirnya bisa walau belum bisa fashih. Aku juga mengingat – ingat pertemuanku dengan Fifah dulu dan sesekali aku tersenyum sendiri. Aku mengamati gadis yang pernah dibuatnya menangis dulu,,rasa bangga dan juga syukur yang aku rasakan saat ini.
Fifah baru sadar kalau sedari tadi ada seseorang yang mengamatinya. Dia kelihatan seperti orang yang berusaha mengingat ingat memorinya.
    “Kak NEIL…!!!” jerit Fifah namun dengan suara pelan. Kemudian Fifah menghampiriku dia kelihatan begitu senang karena bisa bertemu denganku lagi. Kami saling bercerita,Fifah bercerita dengan keadaan desa ini selama ditinggalkan oleh aku dan kawan – kawan.
Fifah senang karena aku masih ingat dengan janjiku.



                            



Rabu, 05 Desember 2012

Sungguh Beruntung Kita






Manusia kadang kurang peka dengan lingkungan sekitarnya,kurang menyadari dengan keadaan di luar sana.Kita sudah mendapatkan apa yang kita dapatkan tapi  kerap kali kita mengeluh,masih ingin mendapatkan yang lebih.Kita sudah mempunyai rumah beralaskan keramik bertembokkan batu bata tapi kita masih inginkan rumah mewah bertingkat.lalu bagaimana dengan mereka,untuk berteduh mereka hanya bisa membangun rumah di lorong-lorong jembatan dengan kayu-kayu bekas yang mereka jejer-jejerkan,Kita bisa tidur diatas kasur yang empuk,sedangkan mereka,menemukan kardus untuk alas tidurpun mereka sudah sangat senang.kita bisa makan tiga kali sehari dengan menu empat sehat lima sempurna,sedangkan mereka makan satu kali sehari dengan lauk tempe dan sambal itu sudah menjadi suatu kenikmatan bagi mereka.kita dapat bersekolah menimba ilmu,sedangkan mereka mendapatkan buku dari tong sampah itu membuat mereka bahagia.Kita bisa tidur nyenyak dengan selimut tebal,sedangkan mereka tidur diemperan toko berselimutkan nyamuk-nyamuk.Kita bisa ganti baju  setiap hari,sedangkan mereka baju satupun penuh dengan tembelan.Kita bisa duduk manis disekolah,sedangkan mereka demi mempertahankan hidup mereka siang malam mengemis di jalanan.Kita mengeluh ketika mendapat makanan yang kurang enak,mereka tersenyum mendapat makanan dari tong sampah.Kita mengeluh tidur dilantai,mereka bersyukur mendapat tempat di emper toko. Kita masih punya orang tua yang sayang dengan kita,sedangkan mereka keberadaannya pun tak tau.Kita tak perlu bekerja untuk bisa makan,mereka siang malam mengais di jalanan demi sesuap nasi.Hidup ini keras bagi mereka,disaat mereka harus sekolah,tapi mereka harus dijalanan tanpa arah.Demi sesuap nasi mereka harus berhadapan dengan teriknya matahari.Tapi mereka masih bisa tersenyum,mereka masih bisa semangat.lalu bagaimana dengan kita? masih pantaskah kita mengeluh? Banyak bersyukurlah dengan apa yang ada,karena kita termasuk orang yang beruntung dibanding mereka.






Sendiri

Aku sendiri lagi
Apa yang terjadi dengan diri ini
Semua ini salah siapa?
Salahkahku atau salah siapa
Menangis
Hati ini menangis lagi
Sebab apa aku menangis
Sebab penyesalankukah atau sebab apa?
Tuhan
Ada apa denganku?
Aku ingi juga seperti mereka
Aku ingin juga merasakan apa yang mereka rasa
Harus bagaimanakah Aku ini?
Aku lelah
Ragaku tak sekuat baja
Jiwaku rapuh
Kapankah semuanya akan berakhir?
Dan kapan kebahagiaan itu kan dating
Tuhan
Maafkan aku
Jika ini adalah sebuah keluhanku padaMu
Aku tahu ini belumlah seberapa
Aku harus tegar
Seperti batu karang yang tetap tegar dihantam ombak

Silmi,07 Nov ‘09