-->
ﺒﺴﻢﷲﺍﻠﺮﺤﻣﻦﺍﻠﺮﺤﻳﻡ
A
|
ku adalah seorang musafir , aku mengembara dari tempat satu
ke tempat yang lain demi menegakkan agamaku yaitu Islam. Aku tak tahu siapa aku
sebenarnya,dari mana asalku,siapa orang tua kandungkupun aku tak tahu. Dari
kecil aku tinggal di sebuah pesantren salafiah di daerah Kebumen tepatnya Pondok Pesantren “al Kahfi”. Di situ aku
dibesarkan,di situ aku belajar ilmu agama dan disitu pula aku berbaur dengan
berbagai santri dari berbagai daerah. Aku selalu bertanya-tanya, siapa
sebenarnya aku ini? Dimana pula orang tua yang telah melahirkanku?tapi tak
pernah kudapatkan jawabannya. Aku sedih ketika melihat teman-temanku bisa
dijenguk oleh orang tua dan saudara-saudaranya,bercengkerama dengan akrab,sungguh
aku iri dengan mereka. Selama bertahun-tahun aku berada di pesantren ini belum
ada sanak saudara yang menjengukku. Selalu saja air mataku jatuh ketika melihat
teman-temanku bisa bertemu dengan keluarga asli mereka. Kemanakah keluargaku?
Rabbi…. Apa aku ini anak buangan? Sungguh malang nasibku.
Tapi….aku sadar aku
tidak boleh sedih terus,aku harus lebih bersyukur karena masih ada orang yang
peduli,perhatian dan sayang padaku. Orang yang selama inii sangat berjasa dalam
hidupku,yang merawatku dengan baik,bahkan menyekolahkan aku sampai ke jenjang
perkuliahan. Beliau adalah pemilik sekaligus pengasuh Pesantren yang aku
tinggali sekarang,namanya Pak Kyai Hasan Abdullah,biasa dipanggail Pak Kyai
Hasan. Beliau sdah menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Semua biaya hidupku
di tanggung oleh beliau,oleh karena itu aku tak menyia-nyiakannya “jangan
sampai aku mengecewakan beliau” ,itulah prinsipku.
Pernah suatu hari aku
bertanya pada beliau tentang keberadaan orang tuaku, tapi beliau menjawab tidak
tahu siapa sebenarnya orangtua kandungku,beliau hanya memberi tahu kalau dulu
beliau menerimaku ketika aku masih berumur 5 th. Beliau menerimaku dari
seseorang yang katanya menemukanku di sekitar tempat kecelakaan pesawat yang
terjadi 17 th silam. Dipergelangan tanganku terpakai gelang yang bertuliskan
namaku yaitu “Neil”,aku tak tahu nama panjangku karena di gelang yang aku pakai
hanya tertuliskan kata Neil.Kemudian Pak Hasan menambahinya dengan kata
Abdillah. Orang itupun tak tahu dimana
orang tuaku,mungkinkah orang tuaku telah tewas dalam kecelakaan pesawat
tersebut? Wallahua’lam.Aku sungguh sungguh tak ingat kecelakaan yang menimpaku saat
aku berumur 5 th itu.
Dan kini usiaku sudah 22
th,aku sudah besar aku pun telah meluluskan kuliahku,Alhamdulillah kini akupun
telah mendapatkan gelar dari studi S1 yang telah aku tempuh selama 4 th sebagai
Sarjana Hukum Islam. Semua itu tak lain adalah berkat jasa Pak Kyai.Rasa
terimakasihku tak akan dapat menggantikan semua jasa-jasa beliau kepadaku. Maka
dari itu aku harus patuh dan taat pada beliau. Selain itu,disitu pula aku telah
menamatkan pendidikan madrasah diniyah di pesantren ini.Dan seperti biasanya,di
pesantren ini ada kegiatan rutin setiap tahunnya yaitu mengirimkan
santri-santrinya ke daerah-daerah yang di anggap pengetahuan tentang agamanya
masih kurang,khususnya agama Islam untuk berdakwah. Biasanya santri-santri yang
dikirim adalah santri yang dianggap telah mampu,ada yang sudah tamat diniyahnya
ada pula yang belum. Dan kini aku ikut diberi tanggung jawab oleh Pak Kyai
untuk ikut bersama rombongan dakwah,sebenarnya ini sudah ketiga kalinya aku
ikut seperti ini. Kami akan dikirim ke daerah Gunung Kidul. Rombongan kami
terdiri dari 50 orang yang nantinya akan di sebar ke setiap desa dan
masing-masing desa terdiri dari 5 0rang. Kami menamai rombongan kami dengan
nama “MUJAHID all KAHFI”. Kami berangkat dengan membawa banyak bekal yang
kira-kira cukup untuk hidup satu bulan. Dengan semangat dan niat jihad
fisabilillah kami berangkat menuju Gunung Kidul yaitu suatu daerah terpencil di
kota Jogjakarta. Walaupun aku sudah sarjana aku tidak malu berbaur dengan
teman-temanku yang rata-rata hanya tamat MA (Madrasah Aliyah) saja,tapi ada
juga yang sudah S1 sepertiku namanya Zikra, dia kuliah di perguruan tinggi yang
sama denganku,dia juga partner baikku,kami pun lulus dalam waktu yang sama.
Kami telah sampai di
tempat tujuan kira-kira jam 15.00 sore. Sebelumnya kami telah membagi kelompok
kami,dan kelompokku kejatuhan tugas ke daerah yang paling terpencil di daerah
ini. Namanya desa Songbanyu,desa ini bisa dikatakan terisolir karena untuk
menjangkau desa ini saja kami harus berjalan kaki sejauh 10 kilometer,sebab
belum terbangunnya infrastruktur jalan yang memadai. Untuk bisa menikmati
siaran televisi saja masih kesulitan,apalagi menangkap sinyal dari jaringan
telepon seluler. Lelah sekali rasanya tubuh ini,dan alhamdulillah sebelum waktu
ashar tiba,kami telah sampai pada tujuan.
Kami disambut dengan ramah oleh bapak kepala
desa di sini,namanya Pak Fajar. Beliau mempersilahkan kami untuk istirahat
dulu,bapak ini sangat baik,beliau telah mempersiapkan kamar untuk kami selama
kami berada di tempat ini. Sembari melepas lelah setelah melakukan perjalanan
yang lumanyan jauh kami disuguhii berbagai makanan oleh Pak lurah yang
sekaligus sebagai Pak Kyai didesa ini. Sebelum terjun ke lapangan dari kami di
persilahkan untuk mandi dulu karena ternyata bau tubuh kami sangat tidak enak
karena keringat. Sebelumnya kami telah ada kesepakatan dengan Bapak Fajar bahwa
daerahnya akan di kunjungi oleh kami. Beliau juga sangat senang atas kedatangan
kami ke desanya,karena beliau merasa warganya masih sangat kurang dalam hal
agama khususnya Islam,karena mayoritas penduduknya beragama Islam,jadi bebannya
semakin berkurang karena kedatangan kami. Sambil menunggu datangnya waktu
maghrib kami berbincang-bincang dulu dengan Pak Fajar mengenai apa saja yang
akan di sampaikan pada warga dan bagaimana cara menyampaikannya agar warga
tidak salah tafsir dan tidak merasa terbebani,serta tidak terganngu dengan kedatangan kami.
“Nak maklum saja ya apabila nanti ade’-ade’
semua menemukan warga kami yang masih ketinggalan informasi,soalnya tempat kami
ini memang masih terisolir,untuk bisa menonton tv warga sini harus membeli
parabola dulu,tapi itu bagi keluarga yang mampu, yang tidak mampu ya hanya
numpang di tempat tetangga yang punya,jadi kaya tempo dulu saja. Demikian pula
jika ada warga yang ingin berkomunikasi lewat telepon seluler harus naik ke
atas bukit untuk mendapatkan sinyal,itupun tidak semua jaringan seluler bisa di
tangkap di wilayah desa ini,he..he…” cerita Pak Fajar. Kami pun ikut tertawa
mendengar cerita Pak Fajar.
“Sebenarnya desa kami sudah meminta pada
pemerintah untuk membangun berbagai infrastruktur agar memudahkan masyaraklat
namun, belum ada tanggapan,dan yang lebih menyedihakn lagi anak-anak disini
jika mau sekolah harus berjalan berkilo-kilo karena di sini belum di bangun
sekolah” sambung Pak Fajar lagi.
Ternyata seperti ini yang dirasakan
mereka,sebagian besar penduduknya menyambung hidup dengan cara bertani,yang
beruntung bisa menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi namun
sayang,mereka yang kurang beruntung paling-paling bisa menyekolahkan anaknya
sampai tingkat SD saja. Kini aku sadar aku harus lebih banyak bersyukur lagi
karena apa yang dialami mereka ternyata lebihi mengharukan di bandingkan
aku,aku termasuk orang yang beruntung walau kedua orang tuaku telah tiada.Ya
Tuhan..ampuni aku. Beliau juga bercerita kalau warganya masih banyak yang
melakukan kebiasaan mengadu binatang,berjudi dan minum – minuman keras,padahal
mereka mengaku beragama Islam. Masyaallah…aku hanya bisa mengelus dada. Saking
asyiknya kami berbincang-bincang hingga tibalah waktu maghrib dan kami cukupkan
bincang-bincangnya.
Kami bersiap-siap
menunaikan shalat maghrib bersama keluarga
Pak Fajar menju ke masjid yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumah
beliau untuk menunaikan shalat berjamah. Masjidnya termasuk besar,bersih dan
terjaga namun sayangnya warga yang
datang ke masjid masih jarang sebagian besar hanya orang tua saja,para
remajanya pun hanya beberapa gelintir saja. Bapak Fajar sebagai imamnya,setelah
selesai beliau mengumumkan pada warga bahwa desanya kedatangan kami yang
Insyaallah akan membawa perubahan di desa ini.
Alhamdulillah kami di sambut baik oleh warga,dengan
harapan kami bisa membawa warga yang agamanya masih Islam KTP menjadi seorang muslim dan muslimah
sejati serta dapat mengaktifkan kembali kegiatan-kegiatan remaja masjid yang
kini telah vakum serta TPQ yang kini tidak ada muridnya,hanya tersisa gedungnya
saja. Sungguh aku miris melihat keadaan di sini,jarang sekali terdengar
suara lantunan al Quran serta orang
–orang mengaji. Dari sini timbul semangatku untuk mengubah keterpurukan menjadi
masyarakat yang Islami,aku harus bisa dan aku pasti bisa.ALLAHU AKBAR….
Semboyan kami “takkan
menyerah sebelum maut menjemput”, dan kami yakin bahwa pertolongan Allah selalu
bersama orang-orang yang bertakwa, maka dari itu kami akan terus maju,pantang
menyerah demi sebuah kebenaran. Bersama menuju satu tujuan yaitu Ridho
Illahirabbi. Usai shalat isya warga telah berkumpul dalam masjid,yang datang
lumayan banyak yang tadinya tidak ikut berjamah di masjid mulai datang
berduyun-duyun mendatangi masjid,para remajanya pun ikut,mungkin karena tadi
sehabis maghrib Pak Fajar telah mengumumkan kedatangan kami disini mereka juga
mengumumkan pada warga yang tidak hadir juga. Kami senang karena ternyata
antusias mereka sangat besar. Walaupun tidak ada yang tahu apakah semua yang
hadir di sini shalat 5 waktunya terpenuhi semua atau tidak. Mungkin dari mereka
ada yang mau tobat,ya semoga saja.
Acara dimulai dengan
pembukaan sambutan oleh Pak Fajar. Beliau menjelaskan pada warga apa tujuan
kami datang ke desa ini,dan apa saja yang akan kami berikan pada warga sini.
Setelah itu dari pihak kami yang mewakili adalah aku sendiri,awalnya aku
sedikit grogi tapi teman-teman memaksaku agar aku yang mewakili mereka.
Kegiatan kami di situ
sangat padat,mulai dari dakwah di masjid dan mushola-mushola serta mengajari
anak-anak TPQ,selain anak-anak,orangtua-orangtua juga turut ikut serta karena
masa muda mereka tidak mereka gunakan untuk mengaji,sehingga kami merasa agak
kesulitan mengajari mereka,otak meereka sudah sulit untuk menangkap pelajaran,tapi
itu tidak menyurutkan semangat kami dalam mengajari mereka, justru itulah
tantangan bagi kami yang harus dapat kami pecahkan. Kami tak henti-hentinya
meminta pertolongan padaNya agar perjuangan kami dapat membuahkan hasil.
Walaupun banyak kesulitan yang kami temui kami tidak putus asa,kami tidak akan
berhenti sampai di sini karena ini merupakan amanah yang harus kami gugurkan
dari beliau Pak Kyai kami. Hari – hari kami lalui dengan suka cita,mandi
disungai,melewati jalan yang berliku – liku dan yang lebih berkesan lagi di
situ kami makan – makanan yang sebelumnya belum pernah kami rasakan yaitu makan
belalang,kami mencarinya di sawah – sawah kemudian kami masak bersama. Ide itu
kami dapatkan dari penduduk di situ juga,mereka biasa mencari belalang untuk di
jadikan lauk. Tak ada ayam,belalangpun jadi,begitulah pepatah yang dapat
dikatakan untuk mereka dan kami juga.
Suatu pagi hari setelah kami pulang dari
sungai kami dikagetkan dengan kedatangan lima pemuda bergaya seperti berandal,mungkin
inilah yang dimaksud Pak Fajar,warga yang mengaku Islam namun tak pernah shalat,dari tampang mereka pun sudah
kelihatan.mereka melolongkan suara di depan rumah pak Fajar,seperti sedang ada
demonstrasi.Sedangkan Pak Fajar berada di depan berusaha menenangkan suasana.
Kami pun menghampiri mereka.
“Maaf ini ada apa yaa,kok ribut – ribut
seperti ini?” tanyaku pada mereka.
“Nah ini nih biang keroknya sudah pada datang,HAI
anak muda sebenarnya dari awal kami sudah curiga pada kalian semua,kalian semua
telah mengajari semua warga di sini dengan aliran – aliran sesat kalian,sejak
adanya kalian di sini mereka tak ada lagi yang mau bergaul dengan kami,ajaran
apa yang sudah kalian jejali ke otak mereka,HAH”,kata salah satu dari mereka
dengan suara lantang dan menantang.
”Tunggu dulu anak
muda,tenanglah jangan bicara dengan emosi seperti ini,mari kita bicarakan
dengan tenang di dalam, tidak enak di lihat oleh warga sini”aku mengajak mereka
untuk membicarakannya di dalam.
”Alaah..tak
perlu,sekarang kami minta kalian cepat tinggalkan tempat ini!!!” bentak mereka.
Kata – katanya semakin membuat kami agak marah,kami hampir saja berkelahi
dengan mereka,namun segera kami sadar kalau perkelahian bukanlah cara untuk
memecahkan masalah tapi akan semakin menambah masalah.
“Begini anak muda beri
kami kesempatan untuk menjelaskan dulu,baru kalian memutuskan untuk mengusir
kami,kedatangan kami kesini bukanlah untuk mengajarkan aliran – aliran sesat
yang kalian katakan, justru kedatangan kami di sini untuk mencegah kalian
aliran sesat tersebut, ajaran yang kami sampaikan adalah syariat dari
Allah,mengajarkan sholat,mengaji dan cara bergaul yang baik. Sekarang kalian
lihatlah sendiri pada diri kalian apa kalian termasuk orang – orang yang
menjalankan syariat – syariat Allah,sedangkan kalian mengatakan kalau agama
kalian Islam,lalu mana buktinya kalau kalian beragama Islam,apa cukup hanya
dengan KTP??”kataku.
Mereka hanya diam
memperhatikan kata – kataku. Salah satu dari kamii menambahkan lagi,yaitu Rizal.
“Apa kalian tidak malu dengan warga,justru
kalianlah yang salah,mereka telah tau mana yang dilarang oleh agama dan yang
diperbolehkan oleh agama,maka dari itu setelah mereka mengetehuinya mereka
tidak lagi bergaul dengan kalian,karena apa? Karena kalian tidak menjalankan
syariat – syariat agama kalian sendiri. Jangan salahkan kami dengan mengatakan
kami telah membawa aliran – aliran sesat,sekarang saya tanya jika yang kami
ajarkan adalah aliran sesat lalu aliran yang benar itu seperti apa,apa yang
namanya mengadu binatang,meminum minuman keras,berjudi dan semacamnya itulah
yang kalian sebut sebagai aliran yang tidak sesat?”.
Lagi – lagi mereka hanya
bisa diam,tak ada lagi kata- kata yang bisa mereka gunakan untuk membela diri.
Pak Fajar pun angkat bicara
“Sekarang kalian sudah
tau mana yang benar,apa kalian masih berani bilang kalau kedatangan mereka
membawa aliran sesat,justru kalianlah yang harus merubah kebiasaan
kalian,kalian mengaku Islam tapi tak pernah sholat,itu semua karena kalian
tidak mengetahui agama kalian sendiri,maka dari itu sadarlah mulai sekarang
tinggalkan kebiasaan – kebiasaan buruk kalian dan bergabunglah bersama anak
muda – anak muda ini,mereka akan mengajari kalian tentang Islam,agama yang
membawa kedamaian dan keselamatan” kata beliau dengan bijaksana.
Para Anak muda itu pun
meninggalkan kami. Alhamdulillah masalah kami telah teratasi,hampir saja kami
terusir dari sini,namun karena kami dapat memperjelas pada mereka bahwa aliran
yang kami bawa bukanlah aliran sesat kami tetap bisa berada di sini.
Sehabis maghrib seperti biasa
kami mengkaji alquran bersama warga dan Subhanallah…maha sucinya Allah dengan
segala kuasaNya,aku melihat anak muda yang tadi pagi berpakaian berandal
menuduh kami sebagai pembawa aliran sesat kini mereka mengenakan baju koko
dengan sarung lengkap dengan pecinya mengajii bersama kami di barisan paling
belakang. Aku senang melihat mereka mau bergabung bersama kami,ternyata Allah
telah membukakan pintu hidayah untuk mereka, trimakasih ya Tuhan. Setelah
selesai mengaji para anak muda itu menghampiri kami dan menyalami kami semua.
“Assalamu’alaikum ka’”,para pemuda itu memberi
salam pada kami.
“Wa’alaikumsalam
warahmatullah anak muda”, jawab kami.
“Kak kami sangat
berterimakasih dengan kakak – kakak semua,karena kakak – kakak semua telah
menyadarkan kami kalau selama ini kami berada dalam jurang kesesatan,trimakasih
kak…terimakasih banyak,untung ada kakak – kakak semua kalau tak ada kakak semua
apa jadinya kami nanti,kami akan jadi penghuni neraka abadi. Maafkan kami juga
kak atas perbuatan kami tadi pagi,kami janji kak kami tidak akan mengulangi
perbuatan itu lagi,kami akan menjalankan syariat – syariat agama kami yaitu
Islam.” Mereka menangis menyesali perbuatan mereka. Kami semua terharu dengan
peristiwa ini.
”Syukurlah sobat kalian
semua telah bertobat,Allah telah membukakan pintu hati kalian,Allah pasti
menerima tobat kalian,sekarang kalian telah bertobat berjuanglah kalian untuk
mendapatkan ridhoNya,dan jalankanlah syariat – syariatnya dengan baik jangan
sampai kalian melalaikannya.”kataku
Tak ada yang tahu
rencanaNYa memang,segala sesuatu telah di atur olehNya.Tak ada yang mampu
menandingi kebesarannNya.Tuhan penguasa seluruh alam ini.
Sudah hampir satu bulan
kami di sini,banyak sudah perubahan yang terjadi di desa ini.Masjid telah penuh
dengan warga yang berjamaah dan mengaji,lantunan suara orang membaca al Quran
pun sudah banyak terdengar ketika kami melewati rumah-rumah penduduk.Para
remaja masjid pun kini telah aktif dengan kegiatan – kegiatannya.Kami senang
dan bersyukur karena antusias warga dalam mempelajari Islam cukup besar. Dan
yang membuat kami bersyukur lagi kini para remaja putrinya pun sebagian besar
telah mengenakan pakaian tertutup dan berjilbab.
Suatu kali aku di
kejutkan dengan datangnya surat dari seorang anak perempuan berisi ungkapan
kagumnya padaku dan rasa terimakasihnya karena sudah mau membimbing warganya ke
jalan lurus.Puji syukur ini semua berkat pertolonganNya.
Tiga hari lagi tugas
kami telah selesai,kerja keras yang tak sia – sia,perjuangan kami selama di
sini menghasilkan kemajuan yang pesat,segala halang rintang dapat kami atasi
dengan baik.Para pemuda di sini kini juga sudah terlatih,mereka sudah mampu
berdakwah walupun masih di depan anak – anak TPQ. Itu membuat kami tak khawatir
untuk meninggalkan mereka karena Insya Allah masyarakat di sini telah berjiwa
Islami. Tuhan…trimakasih atas Hidayah yang Kau berikan,atas pertolonganMu dan
atas KebesaranMu… Semoga setelah kami pulang nanti semuanya tidak berubah
seperti dulu lagi,masjid sepi,jarang orang sholat,jarang yang melantunkan ayat
– ayatMu dan mengaji seperti sekarang ini.Kini,desa ini terasa tentram dan
damai dengan lantunan ayat – ayatMu di seantero rumah – rumah warga,anak –anak
kecil riang gembira berangkat mengaji di TPQ.
“NEIL..!!!,ada seorang
gadis yang mencarimu katanya dia ingin bicara sesuatu denganmu”,teriak Zikra
padaku dengan menepukkan tangannya pada pundakku,suaranya membuyarkan
lamunanku.
“Ada apa tho
Zik,mengagetkan aku saja kau,hampir copot ini jantung”,timpalku padanya
“Itu..ada seorang gadis
yang mencarimu,sekarang dia menunggumu di aula TPQ,cepat hampiri sana”,Zikra
menarik- narikku yang sedang duduk di bawah pohon.
“Ah,yang benar saja kau
Zik,masa’ ada gadis yang
mencariku?”,tanyaku seolah tak percaya.
“Sudahlah tak usah
banyak tanya,dia sudah dari tadi menunggumu,nggak usah GeEr dulu kau karna
seorang gadis yang ingin menemuimu.”Zikra terus saja memaksaku,akhirnya aku
putuskan untuk menemuinya.
Mungkin karena sudah
terlalu lama gadis itu menungu di dalam,aku melihat gadis itu diluar dengan
wajah menunduk lesu dan terpancar kesedihan di wajahnya. Gadis itu berjilbab
putih berpakaian cokelat muda panjang
muslim menutupi semua tubuhnya. Menurut perkiraanku gadis ini masih berumur
sekitar 17 tahunan. Menurut keterangan Zikra gadis ini bernama Afifah. Aku mendekatinya.
“Assalamu’laikum
ukhty…apa adik yang mencariku?”tanyaku pada gadis itu,namun gadis itu hanya
diam dan menunduk.
“Assalamu,alaikum. .
.”aku ulangi sekali lagi salamku,dia menjawab dengan lirih dengan wajah yang
tetep menunduk. Aku bingung aku harus bagaimana,aku tak tahu maksud diamnya.
Sejenak kami hanya
saling diam,tak ada suara dariku maupun darinya. Ku tunggu – tunggu suara
muncul dari mulutnya namun tak kunjung muncul juga. Hampir saja aku
meninggalkannya tiba – tiba terdengar isak tangis dari gadis itu, membuat aku
tak tega meninggalkannya.
“Kak Neil. . .,apa benar
kakak mau meninggalkan desa ini tiga hari lagi?”untuk pertama kalinya aku
dengar dia berbicara walau dengan masih menahan tangisannya.
Aku terdiam mendengar
kata – katanya. Dan gadis itu mulai mengangkat wajahnya.
“Kak Neil, terus terang
saja surat yang tempo hari itu adalah buah tanagan tulisan Fifah,maaf fifah
telah lancing, Fifah berat mau melepaskan kakak semua pergi meninggalkan kami,
Fifah ingin kak Neil tetap di sini,mengajari kami ngaji,sholat dan membaca al
Quran dengan benar. Fifah sedih kak nanti kalau kakak pergi siapa yang akan
mengajari kami lagi,membimbing kami?”rengek gadis itu
Kini giliranku yang
terdiam terpaku,aku tak menyangka dia akan bicara seperti itu.
“Kak perlu kakak ketahui
ya…,gadis yang sekarang ada di depan kakak ini ,yang sekarang sedang memakai
baju muslim dan berjilbab ini ,semua ini berkat kakak , berkat kata – kata yang
biasa kakak dakwahkan di masjid. Kakak tidak pernah tahu kalau dulunya aku adalah
seorang gadis yang tak tahu agamaku sendiri,tak berjilbab dan tak menutup auratku
sepenuhnya, aku bahkan tak bisa mengaji,shalatpun masih bolong – bolong, tapi
sejak kedatangan kakak – kakak semua di sini aku sadar dengan semua kesalahan –
kesalahanku,aku sadar selama ini aku telai mengabaikan perintah – peerintahNYA.
Berkat kakak pula aku dan teman – teman sekarang sudah bisa mmbaca Al Quran
dengan baik, kami sangat berterimakasih dengan kaka – kakak semua. Kini seperti
yang kakak lihat sekarang aku telah menanggalkan semua pakaian – pakaian
ketatku dan menggantinya dengan pakaian muslim seperti ini . Aku juga masih
ingat betul ayat al Quran yang kakak ucapkan tempo hari ketika di masjid yaitu
surat an Nur ayat 30,aku masih ingat betul ayatnya yang kalau nggak salah
artinya seperti ini
“Dan
katakanlah kepada para perempuan yang beriman,agar mereka menjaga pandangannya,
dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya),
kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke
dadanya,…”
Kata Fifah dengan nada
agak sedikit tinngi.
Mendengar kata – kata
Fifah hampir saja aku mengeluarkan air mata tapi belum sempat keluar buru –
buru aku menyekanya karena aku tidak mau terlihat cengeng di depan seorang
gadis. Fifah kembali menunduk sambil sesenggukan menahan tangisnya. Ingin aku
menyeka air matanya jika gadis yang ada di depanku ini adik kandungku tapi dia
bukanlah siapa – siapaku dan agama melarang untuk bersentuhan dengan yang bukan
mahrom,untung aku masih bisa mengendalikan diriku. Segera aku berusaha
menenangkannya.
“Dik Fifah…kakak tahu
bagaimana peraanmu,sebenarnya kakak dan teman – teman juga berat mau meninggalakan desa ini,
kami serasa telah menjadi keluarga dengan warga desa sini, tapi kami tidak
mungkin terus - terusan di sini, kami hanya diberi waktu satu bulan di sini dan
setelah ini kami akan menerima tugas baru lagi dari Pak Kyai. Kami cukup senang
karena ternyata respon dari masyarakat sini sungguh luar biasa, perubahan yang
luar biasa dari sebelumnya, berarti usaha kami tidak sia – sia. Kakak yakin
walaupun nantinya kakak dan teman – teman sudah pergi dari sini suasana seperti
ini Insya Allah akan terus berjalan. Jadi Fifah nggak usah takut dan khawatir
tidak ada yang ngajarin ngaji lagi, itu ada Pak Kyai dan Bu Nyai yang siap
mengajari kalian ngaji, para remaja masjidnya juga sekarang sudah aktif lagi,
kakak percaya pada mereka,mereka akan bias mempertahankan suasana seperti
sekarang ini.”jelasku pada Fifah
“Iya tapi beda kak!!
“Beda gimana? Insya
Allah dengan niat yang lurus demi menegakkan agama Allah, kita akan slalu di bimbing
dan di beri petunjuk oleh-Nya. Siapapun yang mengajarimu hormatilah dia dan
yakinlah kalau ilmunya lebih tinngi dari pada kita.”
“Sudah,,sekarang hapus
air mata Fifah, jangan sedih lagi, kita harus menjadi manusia yang kuat walau
badai seribu kali datang dan kakak percaya Fifah pasti bisa,bersegeralah wudlu
Insya Allah itu bisa menentramkan hatimu.”pintaku
“Iya kak, kalau memang begitu keputusannya
Fifah akan terima dengan ikhlas. Fifah sadar kalau tadi Fifah egois memaksakan
kakak untuk tetap tinggal di sini, padahal perjalanan kakak tidak hanya sampai
di sini perjalanan kakak masih panjang. Fifah nggak akan lupa dengan semua jasa
– jasa kakak dan teman – teman kakak selama di sini dan Fifah juga akan selalu
ingat dengan pesan kak Neil pada Fifah tadi yaitu harus menjadi manusia yang
kuat, tidak lemah dan tidak cengeng,ya kak Fifah siap berjuang,tapi jangan lupa
kakak selalu mendoakan Fifah di sini ya .”
Perlahan air mata Fifah
mengering dan tak jatuh lagi.
“Nah gitu dong,,itu baru namanya Fifah.”kataku
dengan sedikit membesarkan hatinya.
“Ya sudah, kakak bangga denganmu Fifah, kakak
salut dengan sikapmu. Allah telah memberikan hidayah-Nya padamu. Kakak harap
kamu tetap menjaga jilbabmu, pakaianmu dan juga akhlakmu sebagai seorang
wanita. Insya Allah jika Allah mengizinkan, kakak akan sempatkan waktu untuk
berkunjung ke sini lagi kelak,ya mudah – mudahan. Sebelum kakak pergi apa ada
yang mau disampaikan lagi dik?”
“Sepertinya sudah nggak
ada lagi kak,Fifah akan slalu ingat nasehat dari kakak,Fifah harap kakak slalu
mendoakan Fifah di sini agar bertambah mantap iman dan islam Fifah,juga dengan
semua warga di sini”
“Insya Allah dik, kakak akan slalu mendoakan,
Fifah juga doakan kakak ma temen – teman ya agar selalu di beri pertolongan
dari-Nya dalam berjuang di jalan-Nya,,,Oya satu lagi dik,ingatlah selalu tujuan
utama kita yaitu segala yang kita lakukan hanya untuk meraih ridho-Nya.”
Kami berdua berpisah,
Fifah berusaha tersenyum walaupun sebenarnya dalam hati kecilnya berat untuk
melepaskan kepergian kami. Aku merasa Fifah adalah adikku sendiri,meski baru
pertama kali ini aku bertemu dengannya atau lebih tepatnya berhadapan langsung
dengannya aku merasa sudah lama mengenalnya.
Waktu perpisahan telah
tiba, semalam telah di adakan malam mu’adaah atau malam perpisahn, semua warga
berkumpul di masjid yang lumayan besar yang biasa menampung semua warga. Dari
pihak kami sambutan di wakili oleh aku, dan dari warga diwakili oleh Pak Lurah
serta dari wakil pemudi di wakili oleh Fifah. Semua warga sangat berterimakasih
atas kedatangan mereka. Berkat mereka dan tentunya atas pertolongann-Nya
suasana desa ini menjadi nyaman, tentram dan damai. Perpisahan di iringi derai
air mata dari pihak warga maupun kami. Meskipun berat tapi tidak mungkin kami
tetap di situ karena masih banyak tempat
yang akan kami kunjungi . Terlihat Fifah hanya bisa mengintip dari balik pohon,
dia tidak kuasa untuk menampakkan dirinya melepaskan kepergian mereka.
Setahun kemudian….
Aku menepati janjiku
pada Fifah yaitu akan berkunjung kembali ke desanya. Kedatanganku disambut
gembira oleh warga. Alhamdulillah mereka semua masih ingat denganku. Aku mengamati
keadaan desa ini, ternyata mereka masih menjalankan apa – apa yang menjadi
kewajiban orang islam. Aku merasa senang dengan semua ini. “Puji syukur atas
segala kehendak dan rahmatMu ya Allah, Engkau adalah sebaik baik penolong dan
penjaga bagi kami”batinku.
Aku agak terkejut ketika
itu, aku melihat sosok wanita yang pernah kukenall di desa ini yaitu Fifah. Dia
sedang bersama anak – anak kecil di dalm TPQ mengajari membaca al Quran dengan
benar dan fashih. Ini mengingatkanku
dulu ketika sedang mengajari warga sini membaca al Quran sulitnya bukan
main,,tapi akhirnya dengan kegigihan kami dan juga warga yang tidak mau
menyerah, kami akhirnya bisa walau belum bisa fashih. Aku juga mengingat –
ingat pertemuanku dengan Fifah dulu dan sesekali aku tersenyum sendiri. Aku
mengamati gadis yang pernah dibuatnya menangis dulu,,rasa bangga dan juga
syukur yang aku rasakan saat ini.
Fifah baru sadar kalau
sedari tadi ada seseorang yang mengamatinya. Dia kelihatan seperti orang yang
berusaha mengingat ingat memorinya.
“Kak NEIL…!!!” jerit Fifah namun dengan
suara pelan. Kemudian Fifah menghampiriku dia kelihatan begitu senang karena
bisa bertemu denganku lagi. Kami saling bercerita,Fifah bercerita dengan
keadaan desa ini selama ditinggalkan oleh aku dan kawan – kawan.
Fifah senang karena aku masih
ingat dengan janjiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar